Sunday, December 18, 2016

MAJKALAH TAFSIR TENTANG MASYARAKAT



BAB 1
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang membahas tentang tentang kemasyarakatan (sosiologis) . Secara garis besar ajaran Islam bisa dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Hablum Minallah (hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan) dan Hablum Minannas (hubungan manusia dengan manusia). Allah menghendaki kedua hubungan tersebut seimbang walaupun hablumminannas lebih banyak di tekankan. Namun itu semua bukan berarti lebih mementingkan urusan kemasyarakatan, namun hal itu tidak lain karena hablumminannas lebih komplek dan lebih komprehensif. Oleh karena itu suatu anggapan yang salah jika Islam dianggap sebagai agama transedental.
Oleh karena itu kita harus memahami sejarah dan kisah orang-orang terdahulu, sehingga kita dapat mempelajari dan mengambil hikma dari peristiwa yang terjadi pada orang-orang setelah kita, sehingga kita dapat melangkah lebih baik dari orang-orang setelah kita. 

B.     Rumusan Masalah
1.      Menjelaskan konsep sejarah dalam Al-Qur’an ?
2.      Menjelaskan hukum-hukum sejarah dalam Al-Qur’an ?
3.      Menyebutkan gambaran beberapa kisah yang diceritakan Al-Qur’an ?
4.      Menjelaskan fungsi sejarah bagi kehidupan manusia ?











BAB II
PEMBAHASAN

A.     Surat al-Ra’du ayat 11
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْ نَهُ مِنْ اَمْرِاللهِ إِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْامَا بِأَنْفُسِهِمْ وَاِذَا أَرَادَاللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مَرَدَّالَهُ وَمَالَهُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَّالٍ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah, sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Allah.
Ayat ini menerangkan tentang kedhaliman manusia. Dalam ayat ini juga dijelaskan bahwa kebangkitan dan keruntuhan suatu bangsa tergantung pada sikap dan tingkah laku mereka sendiri. Kedzaliman dalam ayat ini sebagai tanda rusaknya kemakmuran suatu bangsa.
لَهُ مُعَقِبَاتِ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْقِهِ يَحْفَظُوْ نَهُ مِنْ اَمْرِاللهِ
Pada tiap manusia baik yang bersembunyi ataupun yang nampak ada malaikat yang terus menerus bergantian memelihara dari kemudharatan dan memperhatikan gerak gerik setiap manusia, sebagaimana berganti-ganti pula malaikat yang lain yang mencatat segala amalannya, baik maupun buruk. Ada malaikat malam dan ada malaikat siang, satu berada disebelah kiri yang mencatat segala amal kejahatan dan satu disebelah kanan yang mencatat segala amal kebajikan, dan dua malaikat bertugas memelihara dan mengawasi manusia. Adapun malaikat yang dimaksud dalam ayat ini adalah malaikat Hafadzah.[1]
Adapun keempat malaikat itu tidak akan terlepas dari kita, melainkan kita sedang dalam keadaan mempunyai hadats besar. Sebagaimana dalam sabda Rasul
:اِنَّ مَعَكُمْ مَنْ لاَيُقَارِقُكُمْ عِنْدَالْخَلاَءِ وَعِنْدَالْجِمَاعِ فَاسْتَحْيُوْهُمْ وَاَكْرَمَهُمْ.
“Sesungguhnya ada malaikat-malaikat yang mengikuti kamu dan tidak terpisah dari kamu melainkan disaat-saat kamu membuang hajat besar atau bersetubuh, maka di segani dan hormatilah mereka.”[2]
إِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى لاَيُغَيِّرُمَا بِأَنْفُسِهِمْ
Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum berupa nikmat dan kesehatan, lalu mencabutnya dari mereka sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Allah juga menyuruh kita (umat-Nya) untuk mengubah suatu kedzaliman karena jika kita tidak merubahnya, maka Allah akan memperluas siksaannya, sedangkan Allah menciptakan manusia di bumi ini untuk menjadi penguasa (khalifah) yang bertugas memakmurkan dan memanfaatkan segala isinya dengan baik bukan untuk merusaknya.[3]
وَاِذَا أَرَادَاللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مُرَدَّالَهُ
Kita tidak patut dan tidak boleh meminta kepada Allah agar keburukan segera didatangkan sebelum kebaikan atau siksaan sebelum pahala, karena jika Allah telah menghendaki dan menimpakannya kepada mereka, maka tidak ada seorangpun yang dapat menolak takdir-Nya.
وَمَالَهُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَّلٍ
Tidak ada penolong bagi manusia seorangpun yang dapat mengendalikan urusan mereka, dan tidak ada seorangpun pula yang mampu mendatangkan kemanfataan atau menolak madharat selain Allah SWT. Sebagaimana dalam Firman-Nya Surat al-Hajj ayat 73:
يَاَيُّهَاالنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْالَهُ اِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ لَنْ يَخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِاجْتَمَعُوْلَهُ وَاِنْ يَسْلُبْهُمُ الدُّبَابُ شَيْئًا لاَيَسْتَنْقِذُهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ
“Hai manusia, telah di buat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu, sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu, amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah pulalah yang disembah.”[4]
B. Surat al-Hujurat ayat 11-13
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْالاَيَسْخَرْقَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى اَنْ يَكُوْنُوْاخَيْرًامِنْهُمْ وَلاَنِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى اَنْ يَكُنَّ خَيْرًامِنْهُنَّ وَلاَتَلْمِزُوْااَنْفُسَكُمْ وَلاَتَنَابَزُوْا بِاْلاَلْقَابِ بِئْسَ الإِسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَاْلإِيْمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ () يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْااجْتَنِبُوْاكَثِيْرًامِنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَلاَتَجَسَّسُوْاوَلاَيَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَاءْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًافَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُواللهَ اِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ () يَاَيُّهَاالنَّاسُ اِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍوَاُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًاوَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا اِنْ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ اَتْقَاكُمْ اِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ()
(11). Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka yang yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olok lebih baik dari wanita yang mengolok-olok dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, seburuk-buruk panggilan yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (12). Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (13) Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seseorang laki-laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Dalam ayat ini Allah menjelaskan adab-adab (pekerti) yang harus berlaku diantara sesama mukmin, dan juga menjelaskan beberapa fakta yang menambah kukuhnya persatuan umat Islam, yaitu:
a. Menjauhkan diri dari berburuk sangka kepada yang lain.
b. Menahan diri dari memata-matai keaiban orang lain.
c. Menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
Dan dalam ayat ini juga, Allah menerangkan bahwa semua manusia dari satu keturunan, maka kita tidak selayaknya menghina saudaranya sendiri. Dan Allah juga menjelaskan bahwa dengan Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan bergolong-golong tidak lain adalah agar kita saling kenal dan saling menolong sesamanya. Karena ketaqwaan, kesalehan dan kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas yang lain.
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْالاَيَسْخَرْقَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ
Kita tidak boleh saling menghina diantara sesamanya. Ayat ini akan dijadikan oleh Allah sebagai peringatan dan nasehat agar kita bersopan santun dalam pergaulan hidup kaum yang beriman. Dengan hal ini berarti Allah melarang kita untuk mengolok-olok dan menghina orang lain, baik dengan cara membeberkan keaiban, dengan mengejek ataupun menghina dengan ucapan / isyarat, karena hal ini dapat menimbulkan kesalah-pahaman diantara kita.
عَسَى اَنْ يَكُوْنُوْاخَيْرًامِنْهُمْ
Allah melarang kita menghina sesamanya karena boleh jadi orang yang dihina itu lebih baik dan lebih mulia disisi Allah kedudukannya dari pada yang menghina.
وَلاَنِسَاءُ مِنْ نِسَاءِ عَسَى اَنْ يَكُنَّ خَيْرًامِنْهُنَّ
Orang yang kerjanya hanya mencari kesalahan dan kekhilafan orang lain, niscaya lupa akan kesalahan dan kekhilafan yang ada pada dirinya sendiri. Sebagaimana dalam sabda Nabi:
الكِبْرُ بَطْرُالْحَقِّ وَغَمْصُ النَاسِ
“Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan memandang rendah manusia”.
وَلاَتَلْمِزُوْااَنْفُسَكُمْ
Dalam penggalan ayat ini Allah melarang kita mencela orang lain karena mencela orang lain sama saja mencela diri sendiri, karena orang-orang mukmin itu bagaikan satu badan. firman Allah SWT yang menerangkan tentang balasan bagi orang yang suka mencela orang lain yaitu:
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
“Neraka wailun hanya buat orang yang suka mencedera orang dan mencela orang”. (al-Humazah: 1)
Adapun dari arti هُمَزَةٍ yaitu mencedera, yakni memukul dengan tangan, sedangkan لُمَزَةٍ yaitu mencela dengan mulut.[5]
وَلاَتَنَابَزُوْا بِاْلاَلْقَابِ
Allah melarang kita memanggil orang lain dengan gelaran-gelaran yang mengandung ejekan-ejekan, karena hal ini termasuk menjelekkan seseorang dengan sesuatu yang telah diperbuatnya. Sedangkan orang yang dihina itu telah bertaubat, tapi jika gelaran (panggilan) itu mengandung pujian dan tepat pemakaiannya, maka itu tidak di benci sebagaimana gelar yang diberikan kepada Umar, yaitu:Al-Faruq.
بِئْسَ الإِسْمُ الْفُسُوْقَ بَعْدَاْلإِيْمَانِ
Allah melarang kita memanggil orang dengan kata “fasik” setelah ia sebulan masuk Islam atau beriman.
Para ulama’ mengharamkan kita memanggil seseorang dengan sebutan yang tidak di sukai.
وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ
Ayat ini di turunkan mengenai “Shafiyah binti Hisyam Ibn Akhtab”, Beliau datang mengadu kepada Rasul bahwa isteri Rasul yang lain mengatakan kepadanya. Hai orang Yahudi, hai anak dari orang Yahudi, mendengar itu, Rasul berkata: mengapa kamu tidak menjawab: ayahku Harun, pamanku Musa, sedangkan suamiku Muhammad. Dalam ayat ini diterangkan bahwa orang yang sudah mengolok-olok bahkan menghina orang lain tapi tidak bertaubat, maka mereka termasuk orang dholim.
يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْااجْتَنِبُوْاكَثِيْرًامِنَ الظَّنِّ
Dalam ayat ini Allah melarang bahkan mengharamkan kita berprasangka buruk atau berfikiran negatif terhadap orang yang secara lahiriyah tampak baik dan memegang amanat, atau kita tidak boleh menfitnah seseorang, karena menfitnah itu bukan saja menyakiti seseorang dari lahirnya saja tapi juga menyakiti bathinnya.
اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمُ
Allah melarang kita berburuk sangka terhadap orang lain karena sebagian dari buruk sangka itu dosa.
Prasangka adalah dosa, karena prasangka adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa memutuskan silaturahmi di antara dua orang yang baik.
Dalam hal ini prasangka yang di larang adalah prasangka buruk yang dapat menimbulkan tuduhan kepada orang lain, sedangkan prasangka tentang perkiraan itu tidak di larang.
Sebagaimana terdapat dalam suatu hadits :
ثَلاَثٌ لَأَزِمَّاتٌ ِلأُمَتِّى : الطِبْرَةُ وَالْحَسَدُ وَسُوْءُالظَّنِّ
“Tiga macam membawa krisis bagi umatku, yaitu memandang kesialan, dengki, dan buruk sangka”.[6]
وَلاَتَجَسَّسُوْ
Allah melarang kita mencari-cari keaiban dan menyelidiki rahasia seseorang, tapi jika kita memata-matai seseorang atau musuh agar tidak terjadi kejahatan, maka itu di perbolehkan.
وَلاَيُغَيِّبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
Allah melarang mencela orang di belakangnya atau menggunjing tentang sesuatu yang tidak di sukainya.
Menurut para ulama’, mencela yang dibenarkan adalah jika bertujuan untuk:
a. Untuk mencari keadilan,
b. Untuk menghilangkan kemungkaran,
c. Untuk meminta fatwa atau mencari kebenaran,
d. Untuk mencegah manusia berbuat salah,
e. Untuk membeberkan orang yang tidak malu-malu melakukan kemaksiatan.
اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَاءْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًافَكَرِهْتُمُوْهُ
Allah melarang kita membicarakan keburukan seseorang, karena hal itu sama halnya dengan makan bangkai saudaranya yang busuk. Allah melarang hal ini karena perbuatan ini merupakan penghancuran pribadi terhadap saudara yang di cela itu.
وَاتَّقُواللهَ اِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Dalam ayat ini Allah menyuruh kita bertaubat dari kesalahan yang telah kita perbuat dengan di sertai penyesalan dan bertaubat (taubat an-nasukha). Dalam ayat ini Allah juga memberitahukan bahwasanya Allah senantiasa membuka pintu kasih sayangnya, membuka pintu selebar-lebarnya dan menerima kedatangan para hambanya yang ingin bertaubat supaya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
يَاَيُّهَاالنَّاسُ اِنَّا خَلَقْنَكُمْ مِنْ ذَكَرٍوَاُنْثَى
Dalam ayat ini mengandung dua penafsiran, yaitu :
a.       Seluruh manusia diciptakan pada mulanya dari seorang laki-laki, yaitu Adam dan dari seorang perempuan, yaitu Hawa.
b.      Segala manusia sejak dulu sampai sekarang terjadi dari seorang laki-laki dan perempuan.
وَجَعَلْنَكُمْ شُعُوْبًاوَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا
Allah menjadikan manusia dari berbagai macam suku dan bangsa agar kita saling mengenal. Ayat ini merupakan dasar demokrasi yang benar di dalam Islam, dengan menghilangkan kasta dan perbedaan.
اِنْ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ اَتْقَاكُمْ
Semua manusia di sisi Allah SWT itu sama, yang membedakan hanyalah ketaqwaannya.
Taqwa adalah suatu prinsip umum yang mencakup takut kepada Allah dan mengerjakan apa yang diridhoinya yang melengkapi kebaikan dunia dan akhirat. Kemuliaan hati yang di anggap bernilai adalah kemuliaan hati, budi, perangai, dan ketaatan pada Allah.
اِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu baik yang tampak ataupun tersembunyi. Dan bahwa Allah adalah sebaik-baiknya Sang Pencipta.
BAB III
PENUTUP

Islam adalah agama samawi terakhir yang dirisalahkan melalui Rasulullah SAW. Karena Islam sebagai agama terakhir dan juga sebagai penyempurna ajaran-ajaran terdahulu, maka sangat bisa dipahami, jika Islam merupakan ajaran yang paling komprohensif, Islam sangat rinci mengatur kehidupan umatnya, melalui kitab suci al-Qur’an. Allah SWT memberikan petunjuk kepada umat manusia bagaimana menjadi insan kamil atau pemeluk agama Islam yang kafah atau sempurna.
Secara garis besar ajaran Islam bisa dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Hablum Minallah (hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan) dan Hablum Minannas (hubungan manusia dengan manusia). Allah menghendaki kedua hubungan tersebut seimbang walaupun hablumminannas lebih banyak di tekankan. Namun itu semua bukan berarti lebih mementingkan urusan kemasyarakatan, namun hal itu tidak lain karena hablumminannas lebih komplek dan lebih komprehensif. Oleh karena itu suatu anggapan yang salah jika Islam dianggap sebagai agama transedental.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa;
1.      Setiap manusia itu di jaga oleh 4 malaikat hafadhah dan bahwasanya Allah adalah sebaik-baik penolong bagi kita.
2.      Dalam hidup bermasyarakat tidak boleh saling membedakan karena semua sama, tak ada yang beda disisi Allah melainkan ketaqwaannya.
3.      Setiap manusia itu pasti punya kesalahan dan Allah maha penerima taubat hambanya sebelum sakaratul maut.
4.      Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali dia merubahnya dan Allah menyuruh kita untuk memberantas kedzaliman.
Demikianlah makalah tentang istilah masyarakat dalam Al-Qur’an serta konsep masyarakat yang ideal untuk mengembangkan konsep pendidikan yang pemakalah buat. Kritik dan saran yang kontruktif senantiasa dinantikan pemakalah demi perbaikan makalah berikutnya. Akhir kata, kami hanya bisa mengucap tidak ada gading yang tak retak hanya milik-Nyalah kesempurnaan yang merajai langit dan bumi serta isinya. Semoga penulisan makalah ini bermanfaat. Amin.



DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Mustofa al Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi, CV Toha Putra, Semarang, 1988.
H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1988.
H. Mukti Ali, Al-Qur’an dan Terjemahnya, PT Bumi Restu, Jakarta, 1974.
Prof. H. Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Tafsir al-Ashhar, Yayasan Nurul islam, Surabaya, 1982
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur, PT Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2000.


[1] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur 5 (surat 42-114), PT Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2000, hlm 2074.
[2] H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy, terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, jilid IV, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1988, hlm 431.
[3] Ahmad Mustofa al Maraghi, Terjemah tafsir al-Maraghi, juz XIII, CV Toha Putra, Semarang, 1988, hlm 135.
[4] Mukti Ali, Al-Qur’an dan Terjemahnya, PT Bumi Restu, Jakarta, 1974, hlm 470.
[5] Prof. H. Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Tafsir al-Ashhar, Yayasan Nurul Islam, Surabaya, 1982, hlm 236.
[6] Ibid, hlm 239

Saturday, December 17, 2016

AYAT-AYAT TENTANG HARI AKHIR



AYAT-AYAT TENTANG HARI AKHIR


I.        PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Rukun iman yang kelima adalah beriman kepada hari akhir. Iman kepada hari akhir adalah percaya akan adanya hari akhir. Hari akhir adalah hari berakhirnya kehidupan dunia. Pada saat itu baik dan buruknya perilaku seseorang akan dicatat bergantung bagaimana kadar keimanan seseorang dalam hatinya. Orang yang benar-benar beriman adanya hari kiamat akan senantiasa menjaga agar perilakunya baik dan berusaha menjauhi hal-hal yang buruk. Begitu juga sebaliknya.
Berikut akan dipaparkan secara lebih rinci terkait dengan Ayat-ayat tentang hari akhir beserta penafsirannya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Jelaskan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an tentang pentingnya mempercayai akan adanya hari akhir?
2.      Sebutkan dalil-dalil eksistensi hari akhir?
3.      Sebutkan dimensi-dimensi kehidupan di akhirat?
4.      Apa manfaat dari mempercayai akan adanyahari akhir?

II.     PEMBAHASAN
A.     Pentingnya mempercayai akan adanya hari akhir.
Hari Akhir disebut juga dengan Hari Kiamat, artinya hari kebangkitan. Pada hari kebangkitan ini semua manusia yang telah meninggal dibangkitkan kembali untuk mempertanggung-jawabkan semua amal perbuatannya selama hidup didunia[1][1]. Dan kita sebagai umat muslim wajib meyakini adanya hari kiamat tersebut. Dengan meyakini adanya hari kiamat, kita akan berusaha mencari tahu tentang gambaran hari kiamat, bagaimana terjadinya kiamat, tanda-tanda datangnya hari kiamat serta kehidupan kita kelak di akhirat. Jika telah mengetahui ketiga hal tersebut, maka secara otomatis kita akan termotivasi untuk meningkatkan iman kepada Allah. Mengapa ? karena kita akan sadar dengan apa yang telah kita lakukan selama ini ! dosa ataukah pahala ?  dan kita akan merasa takut akan ganjaran yang akan kita terima kelak di akhirat jika kita melakukan banyak dosa. Dengan adanya perasaan itu, umat muslim tersebut akan berusaha meningkatkan imannya kepada Allah SWT.
QS. Al Baqarah (2) ayat 4
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ  
“Dan mereka yang beriman kepada (Al Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (Kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.”
Ø     Tafsir
Beriman kepada kitab-kitab yang telah diturunkan-Nya, yaitu beriman kepada Al Qur’an dan kitab-kitab (Wahyu) Taurat, Zabur, Injil dan sahifah-sahifah yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw.  Meskipun dalam beriman kepada kitab-kitab selain Al Qur’an bersifat ijmali (global), sedangkan beriman kepada Al Qur’an harus secara tafsili (rinci). Beriman kepada kitab-kitab dan sahifah-sahifah tersebut berarti beriman pula kepada para rasul yang telah diutus Allah kepada umat-umat yang dahulu dengan tidak membedakan antara seseorang dengan yang lain dari rasul-rasul Allah.
Beriman kepada kitab-kitab Allah merupakan salah satu sifat dari orang-orang yang bertaqwa. Orang-orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah dan mempelajari isinya adalah para ahli waris nabi, ahli waris ajaran-ajaran Allah, baik orang-orang dahulu, maupun orang-orang sekarang sampai akhir zaman. Sifat ini akan menimbulkan rasa dalam diri seorang Muslim bahwa mereka adalah umat yang satu, agama mereka adalah satu, agama islam. Tuhan yang mereka sembah adalah Allah Yang Maha Esa, pengasih dan penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Sifat ini akan menghilangkan eksklusivisme (sifat berbeda) dalam diri seorang Muslim, yaitu meliputi semua sifat sombong, tinggi hati, fanatik golongan, rasa kedaerahan dan perasaan kebangsaan yang berlebihan.[2][2]




B.     Dalil-Dalil Eksistensi Hari Akhir
1.      Ali Imran(3) ayat 25
فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“bagaimana jika (nanti) mereka Kami kumpulkan pada hari (Kiamat) yang tidak diragukan terjadinya, kepada setiap jiwa (diberi balasan yang sempurna) sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” [3][3]
Ø      Munasabah
Dalam ayat-ayat yang lalu telah diterangkan kejelekan tingkah laku orang yahudi yaitu mengabaikan dakwah Nabi, membunuh para Nabi dan orang-orang bijak yang menegakkan kebenaran dan keadilan. Semua itu adalah sebagai keterangan Allah bagi para rosul-Nya bahwa berpalingnya mereka dari dakwah nabi bukanlah suatu hal yang baru atau mengherankan. Lalu pada ayat ini, Allah memperingatkan kepada nabi Muhammad saw, tentang kejanggalan sikap  orang Yahudi dalam hidup beragama, yaitu mereka menolak untuk mengambil hukum dari kitab mereka sendiri. Bila mereka diajak untuk kembali kepada kitab suci mereka, mereka pun selalu menolak.
Ø      Sebab Nuzul
Diriwayatkan oleh Imam al Bukhari, dari Abdullah bin Umar, bahwa beberapa orang  Yahudi datang menghadap Rasulullah saw dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah berbuat zina. Lalu Rasulullah berkata kepada mereka: “Bagaimana tindakanmu terhadap orang yang berbuat zina?” Mereka menjawab, “Kami lumur mereka dengan abu lalu kami pukuli”. Rasulullah saw berkata, “Tidaklah kamu temukan hukum rajam dalam Taurat?” Mereka menjawab, “Tidak… kami tidak menemukan hukum itu di dalamnya”. Abdullah bin Salam berkata kepada mereka, “Kamu telah berdosa, Bawalah Taurat, Bacalah jika kamu sekalian benar”. Lalu salah seorang yang ahli dalam Taurat diantara mereka meletakkan telapak tangannya diatas ayat rajam. Mulailah dia membaca selain dari yang tertutup oleh telapak tangannya. Kemudian Abdullah bin Salam mengangkat telapak tangan orang yang menutupi ayat rajam, lalu dia berkata kepada orang-orang yahudi itu , “ini apa?” Tatkala orang Yahudi itu melihatnya, mereka berkata, “itu adalah ayat rajam”.[4][4] Maka Rasullullah memerintahkan untuk merajam mereka berdua sesuai dengan perintah Taurat. Lalu mereka dirajam dekat kuburan disamping masjid. “Akan tetapi orang Yahudi marah terhadap hukuman ini, maka Allah mencela sikap mereka dengan ayat ini.”[5][5]
Ø     Tafsir
Ayat ini membantah dan membatalkan apa yang dikatakan oleh orang Yahudi pada ayat yang lalu. Ayat ini tersusun dalam bentuk kalimat pertanyaan bagaimanakah keadaan orang Yahudi  bilamana hari Kiamat yang tidak diragukan lagi itu telah datang.  
Bentuk kalimat seperti itu menggambarkan bagaimana kehebatan huruhara yang terjadi dihari itu, dan tentang siksa besar yang akan ditimpakan kepada orang-orang Yahudi. Mereka akan jatuh pada jurang penderitaan, tak akan ada jalan untuk menyelamatkan diri. Sesungguhnya anggapan orang Yahudi bahwa dirinya akan dapat lepas dengan mudah dari azab itu adalah angan-angan kosong.
Pada hari yang dahsyat itu orang akan melihat dengan jelas apa yang telah dikerjakannya, baik atau buruk akan dihadapkan pada mereka. Kemudian segala amal perbuatan akan dibalas dengan kesengsaraan jika amal itu buruk. Tidak ada hak istimewa yang dapat diberikan kepada pemeluk suatu agama tertentu dan golongan tertentu. Tidak pula suatu bangsa mendapat keistemewaan atas bangsa-bangsa lainnya sekalipun mereka menanamkan dirinya dengan sya’bullah al-mukhtar (rakyat Allah yang terpilih) atau anak Allah. Pembalasan pada hari kiamat itu sesuai dengan baik buruknya iktikad yang terkandung dalam hati dan sesuai pula dengan baik buruknya amal perbuatan yang telah dilakukan.
Pada hari itu akan terdapat keadilan yang sempurna. Tidak akan dikurangi sedikitpun balasan terhadap suatu perbuatan dan tidak pula akan ditambah. Yang menjadi pertimbangan pada hari itu ialah keimanan seseorang dan pengaruh iman itu terhadap amal perbuatannya sewaktu didunia. Kalau dia tidak beriman, maka ia akan masuk kedalam neraka, karena amal-amalnya buruk. Jika imannya tidak sampai rusak, karena diimbangi dengan amal saleh atau seimbang antara yang baik dengan yang buruk, maka dia mendapat balasan sesuai dengan derajad dan kadarnya masing-masing.

2.      Yasin ayat (36) ayat 78-81
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ (78) قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ (79) الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ (80) أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ (81)
“Dan dia membuat perumpamaan bagi kami dan melupakan asal kejadiaannya, dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?”. Katakanlah (Muhammad), Yang akan menghidupkannya ialah (Allah ) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. Dan bukanklah (Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu. “Dan bukanlah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi, mampu menciptakan kembali yang serupa itu (jasad mereka yang sudah hancur itu)? Benar, dan Dia Maha Pencipta, Maha Mengetahui. [6][6]
Ø     Sebab Nuzul
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa beberapa orang dari kalangan kaum musyrik antara llain Ubay bin Khalaf dan al-‘As bin Wa’il as-Sahmi, datang kepada Rasulullah, dan mereka membawa sepotong tulang yang sudah lapuk. Lalu seseorang  diantara mereka berkata kepada Rasulullah dengan sikap menantang, “ Hai Muhammad, apakah engkau berpendapat bahwa Allah dapat menghidupkan kembali tulang yang sudah lapuk ini,?” Rasulullah menjawab. “Tentu, Allah akan membangkitkanmu kembali, dan akan memasukkanmu kedalam neraka.”
Maka turunlah ayat ini yang menyebut bahwa orang musyrik yang berkata kepada Rasulullah itu telah mengemukakan sesuatu yang menurut pendapatnya merupakan sesuatu yang tidak akan dapat dijawab oleh Rasulullah, karena tulang-belulang yang telah lapuk itu tak mungkin lagi menjadi manusia yang hidup dan utuh. Sebab itu ia mengemukakan pertanyaan, “Siapakah yang menghidupkan kembali tulang yang sudah lapuk ini?”

Ø     Munasabah
Pada ayat-ayat yang lalu diterangkan bahwa Allah swt telah menciptakan dan memberikan bermacam-macam rahmat kepada manusia, antara lain adalah binatang ternak yang mereka jadikan milik masing-masing dan mereka ambil manfaatnya untuk bermacam-macam keperluan hidup. Tetapi sebagian manusia tidak mensyukuri rahmat tersebut, bahkan sebaliknya mereka bertuhan kepada selain Allah, yang mereka buat sendiri berupa patung-patung dan berhala, yang mereka harapkan dapat menolong dan melindungi mereka. Akan tetapi benda-benda tersebut sudah tentu tak dapat berbuat apa-apa. Pada ayat-ayat berikut ini, Allah mengingatkan kembali asal mula kejadian manusia anak cucu Adam yang sebagian besar dari mereka bahkan memusuhi Allah dan rasul-Nya, dan tidak percaya tentang adanya hari kebangkitan kelak di akhirat.
Ø     Tafsir[7][7]
(78) pada ayat ini dijelaskan tentang keraguan orang kafir Mekah terhadap adanya hari kebangkitan. Mereka berpendapat demikian karena telah melupakan asal kejadian masing-masing. Mereka diingatkan bahwa Allah telah menciptakan mereka dari setetes air mani, sehingga mereka lahir berwujud manusia yang hidup dan utuh. Jika seandainya mereka mengingat dan menyadari hal ini, pastilah mereka yakin bahwa Allah juga kuasa menghidupkannya kembali sesudah mati, walaupun tulang-belulang mereka sudah remuk.
(79) Pada ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menjawab pertanyaan orang-orang tersebut diatas, dengan menegaskan bahwa yang akan menghidupkan tulang-tuang lapuk itu kembali menjadi manusia yang hidup dan utuh adalah Allah yang dahulu telah menciptakannya pada kali yang pertama, dari tidak ada menjadi ada. Allah Maha Mengetahui semua makhluk ciptaan- Nya. Bagi manusia, mengulang suatu perbuatan lebih mudah dari pada melakukannya pertama kali. Akan tetapi, bagi Allah menciptakan sesuatu pertama kali, sama saja mudahnya dengan mengulanginya, karena Allah Maha Kuasa.
(80) pada ayat ini disebutkan bahwa Allah telah memerintahkan Rosulnya untuk menjelaskan kepada orang-orang musyrik tersebut bahwa yang akan menghidupkan kembali tulang-tulang lapuk tersebut adalah Allah yang telah menciptakan umtuk mereka api yang menyala dari kayu yang semula merupakan pohon basah dan hijau tetapi kemudian kayu itu menjadi kering sehingga dapat menyala.
Percontohan ini merupakan hal yang cukup jelas bagi mereka yang sehari-hari menggunakan kayu api. Mereka mengira, bahwa tulang-tulang yang lapuk itu telah menjadi dingin dan kering tidak dapat lagi menerima kehidupan.dan kehidupan ini memerlukan adanya panas. Padahal sehari-hari mereka menyaksikan kayu yang sudah lapuk dan dingin dapat menimbulkan panas dan menghidupkan api. Bahkan kayu yang basah dan berdaun ada juga yang dapat menyalakan api.
Dengan  demikian tepatlah Allah memberikan contoh, bahkan bukan hanya kayu yang kering saja dapat menyala api tetapi kayu yang masih hijau dan basahpun dapat juga dijadikan kayu api. Sebaliknya, tulang-tulang yang dapat menerima kehidupan bukan hanya tulang-tulang yang segar, tetapi tulang yang sudah lapukpun dapat pula menerima kehidupan dengan kekuasaan Allah SWT.[8][8]
(81) Allah mengemukakan pertanyaan kepada orang-orang yang tidak memepercayai hari kebangkitan itu bahwa jika mereka percaya bahwa Allah kuasa menciptakan langit dan bumi ini, mengapa Allah tidak kuasa pula menciptakan sesuatu yang serupa dengan itu. Jawabannya adalah Allah pasti kuasa menciptakannya, karena Dia Maha Pencipta, Lagi Maha Mengetahui.
3.      AL-Ahzab ayat 63
يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا (63)
“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah,’Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya  disisi Allah.’ Dan tahukah kamu (Hai Muhammad) boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.”[9][9]
Ø     Munasabah
Pada ayat-ayat yang lalu, Allah mengemukakan tiga golongan yang menentang Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin, bahwa malaikat itu dikutuk dan dikejar-kejar untuk dibunuh dimana saja mereka dijumpai sesuai dengan perintah Allah. Pada ayat berikut ini, Allah menerangkan tentang hari kiamat, keadaan mereka kelak diakhirat, dan tingkah lakunya ketika menghadapi siksaan Allah.
Ø     Tafsir
Banyak manusia bertanya kepada nabi Muhammad tentang datangnya hari kiamt. Orang-orang musryrik menanyakan tentang hari kiamat tersebut secara mengejek dan mecemoh, serta menantang supaya hari kiamat segera didatangkan. Orang-orang munafik menanyakan tentang hari kiamat Karena terdorong oleh anggapan bahwa nabi Muhammad saw akan menjawab seperti yang mereka perkirakan. Adapun orang-orang yahudi bertanya dengan maksud menguji kebenaran nabi saw, apakah jawabannya akan sama atau tidak dengan yang tercantum dalam kitab taurat, bahwa soal hari kiamat itu sesungguhnya berada ditangan Allah.                       
C.     Dimensi-Dimensi Kehidupan Akhirat
1)     QS. Hud (11) ayat 105-108
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ (105) فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ (106) خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (107) وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ (108)
“Ketika hari itu datang, tidak seorangpun yang berbicara, kecuali dengan izin-Nya; maka diantara mereka ada yang sengsara dan ada yang berbahagia. Maka adapun orang–orang yang sengsara, maka (tempatnya) didalam neraka, disana mereka mengeluarkan dan menarik nafas dengan merintih. Mereka kekal didalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sungguh, Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Dan adapun orang-orang yang berbahagia, maka (tempatnya) didalam surga; mereka kekal didalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain) ; sebagai karunia yang tidak ada putus-putusnya.” [10][10]
Ø     Munasabah
Ayat-ayat yang lalu menerangkan pelajaran yang diambil dari kehancuran umat yang banyak berbuat aniaya didunia ini. Ayat-ayat berikut ini menerangkan balasan diakhirat : bagi orang-orang yang celaka akan dimasukkan kedalam neraka, sedang orang-orang yang berbahagia akan bersenang-senang didalam surga yang penuh dengan kenikmatan.
Ø     Tafsir[11][11]
(105) Pada ayat ini Allah swt menerangkan bahwa jika hari yang telah ditentukan itu tiba, tidak seorangpun dapat berbicara dan berbuat sesuatu kecuali dengan izin Allah. Diantara orang-orang yang berkumpul dihari Kiamat itu, ada yang celaka, mereka akan mendapat azab yang pedih sebagaimana yang telah diancamkan kepada orang-orang kafir, dan ada yang berbahagia, mereka akan memperoleh pahala dan kesenangan sepanjang massa sesuai yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa
(106) Pada ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa orang-orang yang termasuk golongan celaka, karena pada waktu mereka didunia telah merusak akidahnya, mengikuti orang-orang yang sesat perbuatannya, sehingga pudar dan padamlah cahaya iman dari padanya, bergelimang dosa sepanjang masa. Mereka itu akan dimasukkan kedalam neraka dan merasakan azab yang pedih seperti halnya seekor himar yang mengeluarkan dan memasukkan nafasnya disertai rintihan dan teriakan yang amat keras.
(107) Mereka akan kekal didalam neraka, selama-lamanya kecuali kalau Allah swt menghendaki yang lain, karena Dia Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Apa saja yang dikehendaki-Nya akan terwujud dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan ada.
(108) Pada ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa orang-orang yang berbahagia karena ketika mereka berada didunia selalu berhati-hati dan menghindari perbuatan yang bertentangan dengan perintah Allah dan menjauhi godaan-godaan yang akan menjerumuskannya kelembah maksiat, mereka akan ditempatkan disurga, dan kekal didalamnya selama-lamanya, kecuali Allah swt menghendaki yang lain. Balasan dan nikmat yang dianugerahkan kepada orang-orang yang berbahagia adalah karunia semata-mata dari Allah swt yang terus menerus tiada putus-putusnya.
2)     QS. Al-A’RAF (7) ayat 147
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (147)
“Dan orang-orang yang mendustakan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan (mendustakan) adanya  pertemuan akhirat, sia-sialah amal mereka. Mereka diberi balasan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” [12][12]
Ø     Munasabah
Pada ayat-ayat lalu diterangkan hal-ihwal Fir’an dan tentaranya yang telah punah dan tenggelam kedasar laut Qulzum (laut merah), Karena ketakaburan, keangkuhan, kezaliman, dan sikap mereka yang mendustakan kenabian Musa beserta risalah yang dibawanya. Pada ayat ini dijelaskan bahwa orang yang sombong dan mendustakan kekuasaan Allah dan adanya akhirat, mereka akn menerima balasan sesuai dengan perbuatannya.
Ø     Tafsir
Orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya, tidak mempercayai akan adanya pertemuan dengan Allah pada hari akahir nanti, tidak percaya akan adanya pembalasan yang akan diberikan pada hari itu. Maka segala amal baik yang telah mereka kerjakan didunia tidak akan diberi pahala oleh Allah, dan Allah tidak menganiaya sedikitpun, mereka akan disiksa sesuai dengan perbuatan dosa yang telah mereka kerjakan. [13][13]
D.    Manfaat Mempercayai Akan Adanya Hari Akhir
Keyakinan kepada hari akhir memberikan beberapa hikmah kepada orang yang mengimaninya, yaitu sebagai berikut:
1.      Menambah iman dan takwa kepada Allah
2.      Selalu berhati-hati dalam melakukan setiap tindakan
3.      Selalu meminta ampunan kepada Allah SWT
4.      Selalu menghiasi diri dengan berdzikir (meningkatkan ketaqwaan) dan beramal shaleh.
5.      Menghindari perbuatan yang sia-sia (menimbulkan dosa)
6.      Meningkatkan kepedulian terhadap sesama, serta terhadap lingkungan
7.      Mendalami agama islam lebih daripada sebelumnya.




III.   PENUTUP
Dengan memahami kajian teori di atas, tentunya kita semakin mengetahui bahwa kehidupan di dunia ini hanya bersifat sementara. Manusia lahir lalu bertumbuh-kembang, dan akhirnya meninggal dunia. Begitu juga dengan hewan dan tumbuhan. Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa kehidupan yang kekal hanya di akhirat kelak. Disana tidak ada lagi kematian. Orang-orang beriman dan beramal saleh akan hidup selamanya di surga. Sebaliknya, orang-orang kafir dan beramal buruk akan hidup di neraka untuk selamanya.
Dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 4 menjelaskan Beriman kepada kitab-kitab Allah merupakan salah satu sifat dari orang-orang yang bertaqwa. Orang-orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah dan mempelajari isinya adalah para ahli waris nabi, ahli waris ajaran-ajaran Allah, baik orang-orang dahulu, maupun orang-orang sekarang sampai akhir zaman. Sifat ini akan menimbulkan rasa dalam diri seorang Muslim bahwa mereka adalah umat yang satu, agama mereka adalah satu, agama islam.
Pada surat Ali Imran (3) ayat 25 ini membantah dan membatalkan apa yang dikatakan oleh orang Yahudi pada ayat yang lalu. Ayat ini tersusun dalam bentuk kalimat pertanyaan bagaimanakah keadaan orang Yahudi  bilamana hari Kiamat yang tidak diragukan lagi itu telah datang. Bentuk kalimat seperti itu menggambarkan bagaimana kehebatan huruhara yang terjadi dihari itu, dan tentang siksa besar yang akan ditimpakan kepada orang-orang Yahudi. Mereka akan jatuh pada jurang penderitaan, tak akan ada jalan untuk menyelamatkan diri. Sesungguhnya anggapan orang Yahudi bahwa dirinya akan dapat lepas dengan mudah dari azab itu adalah angan-angan kosong.
Pada surat Al- A’raf (7) ayat 147 menjelaskan Orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya, tidak mempercayai akan adanya pertemuan dengan Allah pada hari akahir nanti, tidak percaya akan adanya pembalasan yang akan diberikan pada hari itu. Maka segala amal baik yang telah mereka kerjakan didunia tidak akan diberi pahala oleh Allah, dan Allah tidak menganiaya sedikitpun, mereka akan disiksa sesuai dengan perbuatan dosa yang telah mereka kerjakan.
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Dengan meyakini adanya hari kiamat, kita akan berusaha mencari tahu tentang gambaran hari kiamat, bagaimana terjadinya kiamat, tanda-tanda datangnya hari kiamat serta kehidupan kita kelak di akhirat. Jika telah mengetahui ketiga hal tersebut, maka secara otomatis kita akan termotivasi untuk meningkatkan iman kepada Allah. Dan kita akan merasa takut akan ganjaran yang akan kita terima kelak di akhirat jika kita melakukan banyak dosa. 
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan yaitu Ayat-ayat tentang Hari Akhir. Semoga apa yang telah dipaparkan dalam makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua dan menjadi referensi pengetahuan kita.
           


























DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid IV (Edisi yang Disempurnakan).    Jakarta: Lentera Abadi
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Tafsirnya. Semarang: Effhar Offset, 1993.   Jilid I & III
M. Quraish Syihab. 2009.  Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.
Muhammad Ahmad Isawi.2009.  Tafsir Ibnu Mas’ud. Jakarta: Pustaka Azzam.
http: hari akhir/Fungsi Beriman Pada Hari Akhir _ Sumber kita.htm



[1][1] http: hari akhir/Fungsi Beriman Pada Hari Akhir _ Sumber kita.htm
[2][2] Departemen Agama RI,  Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid I,( Semarang: Effhar Offset, 1993) Hlm. 38-38
[3][3]  Ibid, Hlm. 477
[4][4] Dalam Taurat (Perjanjian Lama) hukuman mati dengan dirajam atau dibakar terhadap pezina atau orang yang berbuat mesum terdapat antara lain dalam Imamat xx: 10-21. Dalam Ulangan xxii: 20-21 disebutkan, bahwa jika tidak terdapat tanda-tanda keperawanan pada seorang gadis, maka ia harus dibawa keluar rumahnya,”…. Dan orang-orang sekotanya haruslah melempari gadis itu dengan batu sehingga mati….”
[5][5] Ibid, hlm 478
[6][6] Departemen Agama RI,  Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid VIII,( Semarang: Effhar Offset, 1993) Hlm. 252
[7][7] Ibid, hlm 256
[8][8] M.Quraish Syihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2009) Hlm.125
[9][9] Muhammad Ahmad Isawi, Tafsir Ibnu Mas’ud, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009) Hlm. 44
[10][10] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid IV (Edisi yang Disempurnakan), (Jakarta: Lentera Abadi, 2010) hlm.474
[11][11] Hlm. 476
[12][12] Departemen Agama RI,  Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid III,( Semarang: Effhar Offset, 1993) Hlm. 479
[13][13] Ibid, Hlm 482