Thursday, December 8, 2016

TANGGUNG JAWAB SEORANG PEMIMPIN;KAJIAN ANALISIS TEMATIK ATAS SABDA NABI



TANGGUNG JAWAB SEORANG PEMIMPIN;
Kajian Analisis Tematik atas Sabda Nabi


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Secara universal, manusia adalah makhluk Allah yang memiliki potensi kemakhlukan yang paling bagus, mulia, pandai, dan cerdas. Mereka mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan dan mengembankan titah-titah amanat-Nya serta memperoleh kasih sayang-Nya yang sempurna.[1]
Sebagai wujud kesempurnaannya, manusia diciptakan oleh Allah setidaknya memiliki dua tugas dan tanggung jawab besar. Pertama, sebagai seorang hamba ('abdulla>h)[2] yang berkewajiban untuk memperbanyak ibadah kepada-Nya sebagai bentuk tanggung jawab 'ubudiyyah terhadap Tuhan yang telah menciptakannya.[3] Kedua, sebagai khali>fatulla>h yang memiliki jabatan ilahiyah sebagai pengganti Allah dalam mengurus seluruh alam.[4] Dengan kata lain, manusia sebagai khali>fah berkewajiban untuk menciptakan kedamaian, melakukan perbaikan, dan tidak membuat kerusakan, baik untuk dirinya maupun untuk makhluk yang lain.[5]
Tugas dan tanggung jawab itu merupakan amanat ketuhanan yang sungguh besar dan berat. Oleh karena itu, semua yang ada di langit dan di bumi menolak amanat yang sebelumnya telah Allah tawarkan kepada mereka. Akan tetapi, manusia berani menerima amanat tersebut, padahal ia memiliki potensi untuk mengingkarinya.
$¯RÎ) $oYôÊttã sptR$tBF{$# n?tã ÏNºuuK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ÉA$t6Éfø9$#ur šú÷üt/r'sù br& $pks]ù=ÏJøts z`ø)xÿô©r&ur $pk÷]ÏB $ygn=uHxqur ß|¡RM}$# ( ¼çm¯RÎ) tb%x. $YBqè=sß Zwqßgy_ ÇÐËÈ
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh"[6]
Ibn 'Abbas sebagaimana dikutip oleh Ibn Kasir dalam tafsirnya "Tafsi>r al-Qur'a>n al-'Az}i>m" menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan amanat pada ayat di atas adalah ketaatan dan penghambaan atau ketekunan beribadah.[7] Ada juga yang memaknai kata amanah sebagai al-takli>f atau pembebanan, karena orang yang tidak sanggup memenuhinya berarti membuat utang atas dirinya. Adapun orang yang melaksanakannya akan memperoleh kemuliaan.[8]
Dari sekian banyak penafsiran ulama tentang amanah, dapat ditarik sebuah "benang merah" yang dapat menghubungkan antara satu dengan yang lain, yaitu al-mas'uliyyah (tanggung jawab) atas anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia, baik berupa jabatan (hamba sekaligus khalifah) maupun nikmat yang sedemikian banyak. Dengan kata lain, manusia berkewajiban untuk menyampaikan "laporan pertanggungjawaban" di hadapan Allah atas limpahan karunia Ilahi yang diberikan kepadanya. Hal ini juga berarti bahwa pemimpin bukan hanya orang yang memiliki jabatan organisasi/instansi dan atau lembaga tertentu tetapi setiap manusia adalah pemimpin skala paling kecil.
Hanya saja kebanyakan manusia tidak memiliki skill dan keterampilan dalam menjalankan amanah tersebut sehingga "LPJ-nya" ditolak yang berdampak pada kerusakan serta ketidakaturan, baik dirinya maupun alam raya ini. Padahal, Rasulullah saw, sudah sangat jelas mengingatkan umatnya mengenai eksistensi mereka di dunia. Ibarat penggembala yang bertugas memelihara, mengawasi, dan melindungi gembalaannya.
Oleh karena itu, penulis, di dalam makalah ini mengajak pembaca untuk merenungi dan menganalisa lebih jauh mengenai tanggung jawab pemimpin dalam perspektif hadis Nabi, sebagai sumber kedua ajaran Islam sekaligus gambaran personifikasi Rasulullah dalam mewujudkan kepemimpinan yang amanah.
Hanya saja, pembahasan makalah ini dibatasi pada salah satu hadis Rasulullah yang driwayatkan oleh al-Bukhari dari Abdullah ibn Umar, yaitu:
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: ألا كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته فالإمام الاعظم الذي على الناس راع وهو مسؤول عن رعيته والرجل راع على أهل بيته وهو مسؤول عن رعيته والمرأة راعية على أهل بيت زوجها وولده وهي مسؤولة عنهم وعبد الرجل راع على مال سيده وهو مسؤول عنه ألا فكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته
"…… Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Ketahuilah: kalian semua adalah pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimmpinnya. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya tentang keluarga yang dipimpinnya. Isteri adalah pemelihara rumah suami dan anak-anaknya. Budak adalah pemelihara harta tuannya dan ia bertanggung jawab mengenai hal itu. Maka camkanlah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dituntut (diminta pertanggungjawaban) tentang hal yang dipimpinnya”[9]  
B.     Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul makalah ini, yaitu upaya memahami tanggung jawab pemimpin berdasarkan hadis Nabi kullukum ra>'in wa kullukum mas'u>lun 'an ra'iyyatihi, maka permasalahan pokok yang akan diangkat sebagai kajian utama tergambar dalam rumusan musalah berikut:
  1. Bagaimana pengertian pemimpin, apakah benar setiap orang adalah pemimpin?
  2. Bagaimana konsep pemimpin??
  3. Bagaimana batas ketaatan kepada pemimpin?








BAB II
PEMBAHASAN

A.     SETIAP MUSLIM  PEMIMPIN
a)      Pengertian
Islam menetapkan tujuan dan tugas utama pemimpin adalah untuk melaksanakan ketaatan kepada allah dan rosul-nya serta melaksanakan perintah perintahnya. Ibnu tamyah mengungkapkan bahwa kewajiban seorang pemimpin yang telah ditunjuk  dipandang dari segi agama dan dari segi ibadah adalah untuk mendekatkan diri kepada allah. Pendekatan diri kepada allah adalah dengan mentaati pelaturan pelaturannya dan rosul-nya. Namun hal itu sering di salah gunakan oleh orang orang yang ingin mencapai kedudukan dan harta.  Dalam hadits imam bukhori dalam kitab “budak”, bab: “ dibencinya memperpanjang perbudakan” dikatakan sebagai berikut :
عَبْدُ اللهِ بْن عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ان رسول الله صلعم كلكم راع  وكلكم مسؤل عن رعيته فالأمير الذي  على الناس راع وهو مسؤل عنهم وَالرَّجُلُ رَاعِ على أَهْلِ بيته وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهم  وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ على بَيْتِ بعلها وولده وهي وَمَسْئُولَةٌ عَنْهم والبعد راع على مال سَيِّدِهِ وهو وَمَسْئُولٌ عَنْه. الا فكُلُّكُمْ رَاعٍ وكلكم مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِه ( أخرجه البخاري فى :  - كتاب العتق:  :با ب كراهية التطاول على الفيق)
Artinya :
Dari Ibn Umar r.a. Berkata bahwa Rasulullah Saw. Telah bersabda :”Kalian semuanya adalah pemimpin (pemelihar) dan  bertanggung jawaban terhadap rakyatnya. pemimpin akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya. Suami pemimpin keluargnya dan akan di tanya tentang keluarga yang dipimpinnya. Istri memelihara rumah suami dan anak-anaknya dan akan di tanya tentang hal yang dipimpinnya. Seorang hamba (buruh) memelihara harta majikannya dan akan ditanya tentang pemeliharaannya. Camkanlah bahwa kalian semua pemimpin dan akan dituntut ( diminta pertanggung jawaban ) tentang hal yang dipimpinnya.”
Pemimpin atau pemelihara dalam hadis di atas disebut dengan kata “ra’in” adalah pemelihara yang selalu berusaha untuk menciptakan kemaslahatan bagi setiap anggota yang berada dalam pemeliharaannya. Ia adalah orang yang diberikan kepercayaan untuk mengurus dan memelihara segala sesuatu yang menjadi beban atau tugas yang harus dilaksanakannya (ra’iyyah). Seorang pemimpin didaulat penuh oleh rakyat untuk mengemban amanah sebaik-baiknya. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus senantiasa menegakkan supremasi hukum dengan adil dan bijaksana, memberikan hak-hak rakyat, menjamin kemerdekaan berpendapat, berserikat, menjalankan ibadah menurut keyakinan mereka masing-masing. Mereka juga harus mendukung setiap langkah yang positif untuk membangun bangsa yang beradab, adil, dan sejahtera.
b)      Sarat pemimpin
1.       seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan.
2.       Pemimpin itu harus kaya ide,
3.       semangat tinggi untuk mewujudkan idenya itu,
4.       sabar,
5.       ikhlas,
6.       suka berkorban dan tentu saja memiliki pengetahuan yang cukup tentang seluk beluk komunitas yang dipimpinnya.
Hal yang paling mendasar yang dapat diambil dari hadis diatas adalah bahwa dalam level apapun, manusia adalah pemimpin termasuk bagi dirinya sendiri. Setiap perbuatan dan tindakan  memiliki resiko yang harus dipertanggungjawabkan. Setiap orang adalah pemimpin meskipun pada saat yang sama setiap orang membutuhkan pemimpin ketika ia harus berhadapan untuk menciptakan solusi hidup di mana kemampuan, keahlian, dan kekuatannya dibatasi oleh yang ia ciptakan sendiri dalam posisinya sebagai bagian dari komunitas.
Dengan demikian, setiap orang islam harus berusaha untuk menjadi pemimpin yang paling baik dan segala tindakannya tanpa di dasari kepentingan pribadi atau kepentingan golongan tertentu. Akan tetapi pemimpin yang adil dan betul-betul memperhatikan dan berbuat sesuai dengan aspirasi rakyatnya, sebagai mana di perintahkan oleh allah SWT. Dalam Al-quran :
ان الله يأ مر با لعدل والاحسان ( النحل :   )
Artinya: “ sesungguhnya allah menyuruh berlaku adil dan berbuat baik “.
Ayat di atas jelas selas sekali memerintahkan untuk berbuat adil kepada setiap pemimpin apa saja dan di mana saja. Begitu pula dengan para suami, istri, pengembala, dan siapa saja yang memiliki tanggung jawab dalam memimpin harus berusaha untuk berlaku adil dalam memimpinnya sehingga ia dapat kemulian sebagai mana janji allah SWT. 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Artinya : “Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda : “Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu : Pemimpin yang adil, Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah Ta’ala, Seseorang yang hatinya senantiasa digantungkan (dipertautkan)” dengan masjid, Dua orang saling mencintai karena Allah, yang keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya. Seorang laki-laki yang ketika diajak [dirayu] oleh seorang wanita bangsawan yang cantik lalu ia menjawab :”Sesungguhnya saya takut kepada Allah.”Seorang yang mengeluarkan sedekah sedang ia merahasiakanny, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di tempat yang sepi sampai meneteskan air mata.”
Yang disebutkan dalam salah satu hadist nabi muhammad SAW bahwa para pemimpin yang adil ialah termasuk salah satu golongan dari tujuh golongan yang akan memperoleh naungan, kecuali arasy di hari kiamat, yakni pada hari yang tidak ada naungan kecuali atas izin allah SWT. Dengan demikian, kebahagian dan pahala yang besar menunggu para pemimpin yang adil, baik di dunia dan terutama kelak di akhirat.  Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits:
وعنبدالله بن عمروبن العاص رضى الله عنه قال : قالرسول الله صلعم : ان المقسطين عند الله على منا بر من نور الذ ين يعد لون فى حكمهم فى اهلهم و ما ولوا ( رواه مسلم )
Artinya : “Abdullah ibnu al-umru al-ash berkata, rasullullah SAW. Bersabda, “ sesungguhnya orang orang yang berlaku adil, kelak disisi allah ditempatkan diatas mimbar dari cahaya yaitu yang adil dalam hukum terhadap keluarga dan apa saja yang diserahkan (dikuasakan) mereka”.
Sebaliknya , para pemimpin yang tidak adil akan memperoleh kehancuran dan ketidak tertiban di dunia dan baginya siksa yang berat diakhirat kelak, apabila di dunia luput, ia tidak  luput dari siksaan akhirat. Oleh karena itu, tepat sekali apa yang dicantumkan dalam sebuah kaidah fiqh: “Kebijakan seorang imam harus berdasarkan pada kemaslahatan masyarakatnya.”[10]

B.     PEMIMPIN PELAYANAN MASYARAKAT
Seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani adalah akuntabilitas (accountable). Istilah akuntabilitas adalah berarti penuh tanggung jawab dan dapat diandalkan. Artinya seluruh perkataan, pikiran dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik dan kepada Allah kelak di akhirat nanti.
Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau mendengar setiap kebutuhan, impian, dan harapan dari mereka yang dipimpin. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang dapat mengendalikam ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan publik atau mereka yang dipimpinnya. Mengendalikan ego berarti dapat mengendalikan diri ketika tekanan maupun tantangan yang dihadapi menjadi begitu berat,selalu dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri, dan tidak mudah emosi. Oleh karena itu pemimpin mempunyi tanggung jawab yang sangat besar bagi bangsa ataupun organisasinya yang dipimpin baik itu di dunia ataupun di akhirat nanti. Semua dalil itu patut menjadi perhatian bagi kita terutama pemimpin umat islam dan para penguasa yang ingin selamat dari siksa neraka. diantaranya hadits yang menyebutkan ancaman bagi pemimpin yang tidak bertanggungjawab adalah sebagaimana disebutkan berikut :
عن الحسنٲن عبيد الله بن زياد عاد معقل بن يسار فى مرضه الذي مات فيه  فقل له معقل : ٳني محد ثك حديثا سمعته من  رسول الله صلى الله عليه وسلم سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول مامن الترعاه الله رعية فلم يحطها بنصيحة ٳلا لم يجد را ئحة الجنه.      ( رواه البخار و مسلم)
Artinya :
“Dari Al-Hasan, bahwa Ubaidillah bin Ziyad menjenguk maq’il berkata kepada Ubaidillah bin Ziyad : Sesungguhnya saya akan menyampaikan kepadamu suatu hadits yang saya dengar dari Rosululloh SAW. Saya mendengar Nabi SAW. Bersabda : "Tiada seorang hamba yang diberi amanat rakyat oleh Allah SWT. Lalu ia tidak memeliharanya denga baik, melainkan Allah tidak akan merasakan padanya harum surga (tidak mendapatkan surga)". (HR. Bukhari dan Muslim)
عن عبد الله بن عمر رضى الله عنهما ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقولثلاثة لايقبل الله منهم صلاة من تقدم قوما وهم له كارهون ورجل اتى الصلاة دبار والد بارأن يأ تيها بعد ان تفوته ورجل اعتبد محرره (رواه أبوداود وابنماجه)
 Artinya:
“Dari Abdullah bin Umar r.a, sesungguhnya Rosulullah SAW. Pernah bersabda: ‘ada tiga macam orang yang Allah tidak akan menerima Sholatnya, yaitu orang yang memimpin suatu kaum (masyarakat), sedangkan mereka benci terhadapnya, dan orang yang mendatangi shalat dalam keadaan terlambat (orang yang mengerjakan salat setelah lewat waktunya) dan orang yang memperbudak orang yang sudah dia merdekakan”.(Diriwayatkan oleh abu Dawud dan Ibnu Majah)
عن أبى أمامة رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ثلاثة لاتجاوزصلاتهم اذا نهم العبد الابق حتى يرجع, كارهون له  وهم قوم وامام ساخط عليها وزوجها باتت وزوجة ( رواه الترمذى)
 Artinya:
“Dari Abu Umamah r.a, beliau berkata: Rosulullah saw. Bersabda: ‘Ada tiga macam orang yang shalatnya tidak akan melampaui telinganya, yaitu: Hamba yang lari dari tuannya, sehingga dia kembali, istri yang tidur, sedangkan suaminya marah kepadanya (karena tidak melayaninya), dan pemimpin suatu kaum, sedangkan mereka (kaumnya) itu benci kepadanya”. (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)
Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan nasib yang akan dialami oleh para pemimpin yang tidak bertanggung jawab :
1.           Mereka tidak akan diterima shalatnya oleh Allah.
2.           Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan mencium bau surga itu.
3.           Dalam hadits tersebut juga tersirat pengertian bahwa pemimpin yang tidak bertanggungjawab itu diancam 2 kali lipat siksaan rakyat yang mereka pimpin.
C.     BATASAN KETAATAN KEPADA PEMIMPIN
Sebagai umat islam kita wajib dan harus memtaati pemimpin karena ”barang siapa yang taat kepada pemimpin berarti dia taat kepada Rosulullah” seperti yang terkandung dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim :
من أطاعنى فقد أطاع الله ومن عصانى فقد عصى الله ومن يطع الأمير فقد أطاعنى ومن يعص الأمير فقد عصانى (رواه متفق)
Artinya :
“Siapa yang taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allah, dan siapa yang durhaka kepadaku, maka berarti ia durhaka kepada Allah. Dan Siapa yang taat kepada amir (pemimpin), berarti ia taat kepadaku, dan siapa yang durhaka kepada Amir, berarti ia durhaka kepadaku”. (HR. Muttafaq Alaih)[11]
Akan tetapi kita harus bisa membedakan perintah yang baik atau yang mengarah kepada kemaksiatan sebab mentaati pemimpin itu ada batasannya sesuai hadits berikut ini Sabda Rosulullah SAW :
بد الله بن عمر رضي الله عنهما, عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : السمع والطاعة على المرإ المسلم فيما أحب وكره, مالم يؤمر بمعصية, فإ ذا أمر بمعصية فلا سمع ولاطاعة. (رواه البخار و مسلم))
Artinya:
“Abdullah bin Umar r.a berkata : Nabi SAW. bersabda : "Mendengar dan taat itu wajib bagi seseorang dalam apa yang ia suka atau benci, selama ia tidak diperintah berbuat maksiat, maka jika diperintah berbuat maksiat maka tidak wajib mendengar dan wajib taat". (HR. Buhkari dan Muslim)
Berdasarkan hadits di atas Nabi Muhammad saw. berpesan agar setiap muslim hendaknya mendengar dan mematuhi keputusan, kebijakan dan perundang-undangan yang telah ditetapkan oleh para pemimpin, baik itu menyenangkan ataupun tidak menyenangkan bagi dirinya. Selama peraturan tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah dan Rosul-Nya.
Sebab kunci dari keberhasilan suatu negara atau organisasi diantaranya terletak pada ketaatan para warga atau pengikutnya dan pemimpinnya kepada Allah.
Dan apabila kaum muslimin tidak mau mendengar dan tidak mau mematuhi serta tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi di Negara atupun di organisasi tempat ia tinggal, maka kehancuranlah yang akan terjadi dan sekaligus menjadi bencana bagi umat islam.
Apabila pemimpin memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Allah dan Rosul-Nya, maka kita tidak boleh mentaati perintahnya. kepatuhan terhadap pemimpin mempunyai batasan tertentu yakni selama memimpin dan mengarahkan kepada hal-hal yang positif dan tidak menuju ke jalan kemaksiatan maka kita wajib mematuhi perintahnya, begitu pula sebaliknya. Misalnya, pemimpinitu melarang wanita muslim mengenakan jilbab; pemimpin yang menyuruh untuk melakukan perjudian dan masih banyak contoh yang lain.[12]
Kriteria-kriteria pemimpin yang wajib kita taati :
1.            Islam
2.            Mengikuti perintah-perintah Allah dsan Rosul-Nya
3.            Menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat munkar
4.            Lebih mementingkan kepentingan umat daripada kepentingan pribadi
5.            Tidak mendzalimi umat Islam
6.            Memberikan teladan dalam beribadah












BAB III
PENUTUP

Bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawabannya tentang apa yang telah mereka pimpin sesuai tingkat kepemimpinannya itu. Kata pemimpin, dalam hal ini bukan hanya berarti kepala negara melainkan bersifat umum.
Kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.
Rahasia utama pemimpin adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.
Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
Dapat kita simpulkan bahwa setiap muslim adalah pemimpin:
1.      Seluruh manusia menjadi pemimpin sekaligus menjadi pemelihara dan pengurus terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya.
2.      Pemimpin atau pengurus harus berbuat baik kepada apa yang dipimpinnya atau diurusinya, karena semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya di hadapan Allah.
3.      Pemimpin atau penguasa adalah pemelihara umat yang harus dengan jujur melaksanakan amanah dan tuntutan rakyatnya untuk menciptakan kesejahteraan di segala bidang. Ia akan mempertanggungjawabkan semua kebijakan yang ditempuhnya sewaktu di dunia menyangkut persoalan umat. Apabila adil, jujur, dan benar, maka Allah merahmatinya, tetapi bila dzalim dan menyelewengkan kekuasaannya, maka Allah akan melaknatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ibrohim, Drs.T. 2006.Pemahaman Al-Qur’an dan Hadis. Solo : Tiga Serangkai.
Suparta, Drs.H.M. dkk. 2004. Buku Pelajaran Qur’an dan Hadits 3. Jakarta : Listafariska Putra.
Muhammad, Abubakar. 1997. Hadis Tarbawi III. Surabaya : Abditama.
Rahmat syafe’i, Prof.DR.H. Buku AL-HADIS, Aqidah, Akhlak, Sosial, dan Hukum : pustaka setia.
Tanggung Jawab Seorang Pemimpin  Oleh : Dr. KH. Zakky Mubarak, MA (situs websate MUI).



[1] Heidjrachman. R Tanya jawab Managemen. hal. 155
[2] Ibid.  hal 119
[3] Keith Davis, Human Behavior Work. New York. Book Company, 1972. Hlm 103-104
[4] A.S. Moenir, Kepemimpinan kerja. Jakarta. Bina aksara.1988.hlm 206
[5] H. Basri Iba Asghary, Solusi Al-Qur’an. Jakarta. Rineka Cipta. 1994.hlm 109
[6] Drs.Dudung Khalidi Yusuf, M.Pd. dan Drs. H. Dedeng Rasyidin, M.Ag. Syariah Leadership. Bandung. Tafakur (kelompok Humaniora) . 2008.hlm 74-75
[7] HR. Muslim
[8] Dikeluarkan oleh Imam Bukhari Muslim dalam kitab Hukum-hukum bab “Orang yang diberi amanat Pemimipin”.
[9] QS. Asy-Syu’ara : 215
[10] Miftah thoha, Kepemimpinan Dalam Menejemen. Jakarta PT Raja Gravindo Persada. 2001 hlm. 75
[11] Quraish Shihab, Wawasan Al-qur’an (Bandung, Mizan 1998). hlm. 315
[12] H. Basri Iba Asghary. Solusi Al-Qur’an. Jakarta. Rineka Cipta. 1994.hlm 109

0 comments:

Post a Comment