Sunday, December 11, 2016

KRITISISME IMMANUEL KANT



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Dalam perkembangan beberapa aliaran filsafat, kita mengenal tentang “ada” yang dikemukakan oleh Parmenides dan Herakleitos. Parmenides menyatakan bahwa realitas bukan yang berubah dan bergerak menjadi bermacam-macam, melainkan yang “ada” dan bersifat tetap. Hal ini berarti bahwa di dalam realitas ini penuh dengan yang “ada” sehingga tidak ada yang lain termasuk yang “tidak ada”, karena yang “tidak ada” itu di luar jangkauan akal dan tidak dapat dipahami. Konsekuensi dari pernyataan ini adalah yang ada itu (1) satu dan tidak terbagi, (2) kekal dan tidak mungkin ada perubahan, (3) sempurna dan tidak bisa ditambah atau dikurangi, dan (4) mengisi segala tempat. Karena pendapatnya yang mengatakan bahwa yang ada itu ada dan yang tidak ada memang tidak ada, Parmenides dikukuhkan sebagai peletak landasan dasar metafisika. Sedangkan Herakleitos menyatakan bahwa api sebagai dasar segala sesuatu. Api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja berubah menjadi abu sementara apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos berpandangan bahwa di dalam dunia alamiah tidak ada sesuatupun yang tetap. Pernyataannya yang terkenal adalah "pantarhei kai uden menei" yang artinya semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tetap. Dengan demikian, Herakleitos tidak mengakui adanya pengetahuan umum yang bersifat tetap. Ia hanya mengakui kemampuan indra dan menolak kemampuan akal. Karena menurutnya setiap perubahan terjadi dalam realitas konkret, serta dalam ruang dan waktu tertentu. Misalnya, dalam gerakan ruang dan waktu, biji berubah menjadi tumbuhan, menjadi pohon, dan kemudian berubah menjadi makanan, minuman, pakaian, perumahan, dan sebagainya.
Dengan demikian, “ada” yang bersifat tetap yang dibawa oleh Permenides kemudian menuju kepada idealisme dengan Plato sebagai tokohnya. Idealisme ini kemudian mengarah kepada rasionalisme dengan Rene Descartes sebagai tokohnya, di mana kebenaran menurut rasionalisme itu bersifat koherentisme, konsisten, dan identitas. Sementara “ada” yang sifatnya berubah yang dibawa oleh Herakleitos kemudian menuju kepada realisme dengan Aristoteles sebagai tokohnya. Realisme ini kemudian berkembang menjadi empirisme dengan David Hume sebagai tokohnya, di mana kebenaran menurut empirisme itu bersifat korespondensi dan kontradiksi.
Dalam sejarah perkembangan filsafat sejak zaman pra-Yunani kuno hingga abad XX sekarang ini, telah banyak aliran filsafat bermunculan. Setiap aliran filsafat memiliki kekhasan masing-masing sesuai dengan metode yang dijalankan dalam rangka memperoleh kebenaran.
Filsafat zaman modern berfokus pada manusia, bukan kosmos (seperti pada zaman kuno), atau Tuhan (pada abad pertengahan). Dalam zaman modern ada periode yang disebut Renaissance (kelahiran kembali). Kebudayaan klasik warisan Yunani-Romawi dicermati dan dihidupkan kembali; seni dan filsafat mencari inspirasi dari sana.
Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada Perbedaan pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.
Demikian Immanuel Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat, membuat suatu sintesis, dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian tersebut di atas, makalah ini akan membahas tentang;
1.      Apa yang dimaksud dengan Kritisisme?
2.      Bagaimana Kritisisme Immanuel Kant?
3.      Bagaimana posisi Kritisisme; antara Empirisme dan Rasionalisme?
4.      Bagaimana gambaran umun mengenai Kritisisme Madzhab Frankfurt?





BAB II
PEMBAHASAN

A.     Kritisisme
Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dulu menyelidiki kemampuan rasio dan batas-batasnya. Filsafat kritisisme adalah faham yang mengkritik terhadap faham Rasionalisme dan faham Empirisme. Yang mana kedua faham tersebut berlawanan, Adapun pengertian secara perinci adalah sebagai berikut:[1]
a)      Faham Rasionalisme adalah paham yang menyatakan kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan dan analisis yang berdasarkan fakta. Paham ini menjadi salah satu bagian dari renaissance atau pencerahan dimana timbul perlawanan terhadap gereja yang menyebar ajaran dengan dogma-dogma yang tidak bisa diterima oleh logika. Filsafat Rasionalisme sangat menjunjung tinggi akal sebagai sumber dari segala pembenaran. Segala sesuatu harus diukur dan dinilai berdasarkan logika yang jelas. Titik tolak pandangan ini didasarkan kepada logika matematika. Pandangan ini sangat popular pada abad 17. Tokoh-tokohnya adalah Rene Descartes (1596-1650), Benedictus de Spinoza – biasa dikenal: Barukh Spinoza (1632-1677), G.W. Leibniz (1646-1716), Blaise Pascal (1623-1662).
b)      Faham Empirisisme adalah pencarian kebenaran melalui pembuktian-pembukitan indrawi. Kebenaran belum dapat dikatakan kebenaran apabila tidak bisa dibuktikan secara indrawi, yaitu dilihat, didengar dan dirasa. Francis Bacon (1561-1624) seorang filsuf Empirisme pada awal abad Pencerahan menulis dalam salah satu karyanya Novum Organum: Segala kebenaran hanya diperoleh secara induktif, yaitu melalui pengalamn dan pikiran yang didasarkan atas empiris, dan melalui kesimpulan dari hal yang khusus kepada hal yang umum. Empirisisme muncul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap superioritas akal. Paham ini bertolak belakang dengan Rasionalisme yang mengutamakan akal. Tokoh-tokohnya adalah John Locke (1632-1704); George Berkeley (1685-1753); David Hume (1711-1776). Kebenaran dalam Empirisme harus dibuktikan dengan pengalaman. Peranan pengalaman menjadi tumpuan untuk memverifikasi sesuatu yang dianggap benar. Kebenaran jenis ini juga telah mempengaruhi manusia sampai sekarang ini, khususnya dalam bidang Hukum dan HAM.
Pelopor kritisisme adalah Immanuel Kant. Immanuel Kant (1724 – 1804) mengkritisi Rasionalisme dan Empirisme yang hanya mementingkan satu sisi dari dua unsur (akal dan pengalaman) dalam mencapai kebenaran. Menonjolkan satu unsur dengan mengabaikan yang lain hanya akan menghasilkan sesuatu yang berat sebelah. Kant jelas-jelas menolak cara berfikir seperti ini. Karena itu, Kant menawarkan sebuah konsep “Filsafat Kritisisme” yang merupakan sintesis dari rasionalisme dan empirisme. Kata kritik secara harfiah berarti “pemisahan”.
Isi utama dalam kritisisme yaitu gagasan Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika, dan estetika. Gagasan tersebut muncul karena ada pertanyaan-pertanyaan yang mendasar yang timbul pada pemikiran Immanuel Kant.
Adapun ciri-ciri Kritisisme Immanuel Kant dapat disimpulkan menjadi tiga hal yaitu:
1.      Menganggap objek pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek.
2.      Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk menetahui realitas atau hakikat sesuatu, rasio hanya mampu menjangkau gejalanya atau fenomenanya saja.
3.      Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu itu diperoleh atas perpaduan antara peranan unsure “a priori” (sebelum di buktikan tapi kita sudah percaya) yang berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu dan peranan unsur “aposteoriori” (setelah di buktikan baru percaya) yang berasal dari pengalaman yang berupa materi.[2]

B.     Kritisisme Imanuel Kant (1724-1804)
Immanuel Kant adalah seorang filsuf Jerman kelahiran Konigsberg, 22 April 1724 – 12 februari 1804. Ia dikenal sebagai tokoh kritisisme. Filsafat kritis yang ditampilkannya bertujuan untuk menjembatani pertentangan antara kaum Rasionalisme dengan kaum Empirisme. Bagi Kant, baik Rasionalisme maupun Empirisme belum berhasil memberikan sebuah pengetahuan yang pasti berlaku umum dan terbukti dengan jelas. Kedua aliran itu memiliki kelemahan yang justru merupakan kebaikan bagi seterusnya masing-masing.
Menurut kant, pengetaahuan yang dihasilkan oleh kaum Rasionalisme tercermin dalam putusan yang bersifat analitik-apriori, yaitu suatu bentuk putusan dimana predikat sudah termasuk dengan sendirinya kedalam subyek. Memang mengandung kepastian dan berlaku umum, tetapi tidak memberikan sesuatu yang baru. Sedangkan yang dihasilkan oleh kaum Empirisme itu tercermin dalam putusan yang bersifat sintetik-aposteriori, yaitu suatu bentuk putusan dimana predikat belum termasuk kedalam subyek. Meski demikian, sifat sintetik-apesteriori ini memberikan pengetahuan yang baru, namun sifatnya tidak tetap, sangat bergantung pada ruang dan waktu. Kebenaran disini sangat bersifat subyektif.
Dengan melihat kebaikan yang terdapat diantara dua putusan tersebut, serta kelemahannya sekaligus, kant memadukaa keduanya dalam suatu bentuk putusan yang bersifat umum-universal, dan pasti di dalamnya, “akal budi dan pengalaman indrawi dibutuhkan serentak”.
Bagaimana cara untuk mendapatkan putusan sintetik-apriori?
Dalam hal ini kant menunjukan pada 3 bidang sebagai tahapan yang harus dilalui, yaitu:
a)      Bidang indrawi
Peranan subyek lebih menonjol, namun harus ada dua bentuk murni yaitu ruang dan waktu yag dapat diterapkan pada pegalaman. Hasil yang diterapkan pada ruang dan waktu merupakan fenomena konkrit. Namun pengetahuan yang diperoleh indrawi ini selalu berubah-ubah, tergantung pada subyek yang mengalami dan situasi yang melingkupinya.
b)      Bidang Akal
Apa yang telah diperoleh melalui bidang indrawi tersebut, untuk memperoleh pengetahuan yang bersifat objektif-universal. Haruslah dituangkan ke bidang akal. Disini terkandung 4 bentuk kategori:
1.      Kategori kuantitas, terdiri atas; singulir(kesatuan), partikulir(sebagian), dan universal(umum).
2.      Kategori kualitas, terdiri atas; realitas(kenyataan), negasi(pengingkaran), dan limitasi(batas-batas)
3.      Kategori relasi, terdiri atas; categories(tidak bersyarat), hypothetis(sebab dan akibat), disjunctif(saling meniadakan)
4.      Kategori modalitas, terdiri atas; mungkin/tidak, ada/tiada, keperluan/kebetulan.[3]
c)      Bidang Rasio
Pengetahuan yang telah diperoleh akal itu baru dapat dikatakan sebagai putusan sintetik-apriori, setelah dikaitkan 3 macam ide, yaitu; Allah(ide teologis), jiwa(ide psikologis), dan dunia (ide kosmologis).
Namun ketiga macam ide itu sendiri tidak dapat dicapai oleh akal pikiran manusia. Ketiga ide ini hanya merupakan petunjuk untuk menetapkan kesatuan pengetahuan. Selain itu Immanual kant juga mengangkat aliran Aufk Larung ke puncak perkembangannya sekaligus mengantar keruntuhannya. Pendapatnya adalah;
1.    Ajarannya tentang pengetahuan
Pendapat-pendapat yang sintesis dengan suatu pertanyaan; bagaimana mungkin orang dapat menetapkan pendapat yang apriori (terlepas dari pengalaman) tentang suatu objek dengan mempergunakan logika?
2.    Ajarannya tentang kesusilaan
Ajaran etikanya berprinsip bahwa segala sesuatu hanya tergantung pada kehendak/ suasana yang menjadi dasar perbuatan-perbuatan kita. Perbuatan baik dari sudut susila adalah berdasarkan keinsafan kewajiban dengan pengertian bahwa setiap perbuatan kita bisa menjadi hukum umum yang berlaku. Asas pokok kesusilaan adalah imperatif kategoris, artinya suatu imperatif/ perintah dari dalam diri kita yang memerintahkan kepada kita tanpa memandang sebab dan akibatnya, cara berbuatnya, dsb. Berbuat baik adalah berbuat dengan berpangkal pada hukum kesusilaan yang dibuat oleh diri kita sendiri seara otonom karena menghormati hukum kesusilaan.

3.    Ajarannya tentang kesenian
Rasa estetis itu khususnya berupa suatu rasa senang/ nikmat yang bercampur dengan perasaan tak senang. Dapat mengikat menjadi perasaan luhur yang berlebih-lebihan yang dapat membuat kita merasa luhur/ mulia.  
Adapun karya Kant yang terpenting adalah “Kritik der Reinen Vernunft” 1781. Dalam bukunya ini ia membatasi pengetahuan manusia, atau dengan kata lain apa yang bisa diketahui manusia
Kant sebenarnya hanya meneruskan perjuangan Thomas Aquinas yang pernah melakukannya. Immanuel Kant sendiri mulanya sangat beregang teguh dengan rasionalisme, secara dia adalah seorang Jerman, namun dia tersadarkan akan empirisme dari bukunya David Hume (filsuf Inggris). Dan sejak itulah Immanuel Kant merasa rasionalisme dan empirisme bisa digabungkan dan merupakan sebuah bagian yang dapat melengkapi satu sama lain.
Kritisisme Rasionalis Jerman yang diajarkan Immanuel Kant adalah metodeloginya yang dikenal dengan metode induksi, dari partkular data-data terkecil baru mencapai kesimpulan universal.
Dengan kritisisme Immanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia. Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia "itu sendiri", namun hanya dunia itu seperti tampak "bagiku", atau "bagi semua orang". Namun, menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Yang pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah, ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita. Ruang dan waktu adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Ini bentuk pengetahuan.
Immanuel Kant juga beranggapan bahwa data inderawi manusia hanya bisa menentukan Fenomena saja. Fenomena itu sendiri adalah sesuatu yang tampak yang hanya menunjukkan fisiknya saja. Seperti Benda pada dirinya, bukan isinya atau idenya. seperti ada ungkapan "The Think in itself". Sama halnya dengan Manusia hanya bisa melihat Manusia lain secara penampakannya saja atau fisiknya saja, tetapi tidak bisa melihat ide manusia tersebut. Inderawi hanya bisa melihat Fenomena (fisik) tapi tidak bisa melihat Nomena (Dunia ide abstrak- Plato)
Immanuel Kant memang cenderung mendapatkan "ilham" atau terinmspirasi dari Plato, tapi tidak semuanya, dia "menyempurnakannya" dengan menggabungkan dengan Pengalaman Empirisme ajaran Aristoteles. Plato beranggapan Fenomena yang membentuk Nomena, Ide di atas segalanya, Ide yang membentuk sebuah yang nyata, seperti halnya Tuhan menciptakan Manusia.[4]
Immanuel Kant terinspirasi dari Plato terlihat dari teori 3 postulat "buatan". Sesuatu yang kita percaya, namun sulit dibuktikan.
    1. Free Will, Kehendak yang bebas
    2. Keabadian Jiwa, Immortaolitas Jiwa (warisan Plato. Manusia mati, tetapi Jiwa tak pernah Mati, makanya ide bersifat abstrak dan di atas segalanya)
    3. Tuhan, merupakan sesuatu yang kita percaya dan yakini akan keadaanya, akan tetapi sulit untuk mebuktikan kenampakan fisiknya.

C.     Filsafat Kritisisme Sebagai Penengah Antara Rasionalisme Dan Empirisme
Rasionalisme adalah aliran yang beranggapan bahwa dasar semua pengetahuan itu ada dalam pikiran (berasal dari rasio/akal) sehingga akal merupakan alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Aliran rasionalisme ini dipelopori oleh Rene Descartes yang terkenal dengan ungkapannya Cogito ergo sum atau I think therefore I’m (saya berpikir maka saya ada). Sedangkan Empirisme adalah aliran yang beranggapan bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia itu berasal dari indra (pengalaman) manusia yang meliputi mata, hidung, telinga, kulit dan mulut. Aliran empirisme ini dipelopori oleh David Hume yang terkenal dengan ungkapannya I never catch my self at any time with out a perception (saya selalu memiliki persepsi pada setiap pengalaman saya). Kedua aliran ini sangat bertolak belakang sehingga pada abad ke-18 terjadi konflik yang hebat antara rasionalisme dan empirisme. Kemudian, lahirlah aliran kritisisme yang dipelopori oleh Immanuel Kant, di mana kritisisme itu berusaha mengadakan penyelesaian atas pertikaian antara rasionalisme dan empirisme. Untuk menghilangkan konflik di antara rasionalisme dan empirisme, Kant mengadakan pemaduan di antara dua aliran ini dalam hal perumusan kebenaran. Dalam kaitan ini Kant mengatakan bahwa “Pengetahuan merupakan hasil kerjasama dua unsur, yaitu pengalaman dan kearifan akal budi. Pengalaman indrawi merupakan unsur a posteriori (yang datang kemudian), sedangkan akal budi meru­pakan unsur a priori (yang datang lebih dahulu).
Kritisisme adalah aliran yang lahir dari pemikiran Immanuel Kant yang terbentuk sebagai ketidakpuasan atas aliran rasionalisme dan empirisme. Dengan kritisisme, Immanuel Kant mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua aliran yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing aliran benar separuh dan salah separuh. Benar bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indra kita, namun dalam akal kita terdapat faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia.
Menurut Immanuel Kant, pengetahuan yang dihasilkan oleh kaum Rasionalisme tercermin dalam putusan yang bersifat analitik a priori, yaitu suatu bentuk putusan di mana predikat sudah termasuk dengan sendirinya ke dalam subyek, sehingga mengandung kepastian dan berlaku umum, tetapi tidak memberikan sesuatu yang baru. Sedangkan pengetahuan yang dihasilkan oleh kaum Empirisme itu tercermin dalam putusan yang bersifat sintetik a posteriori, yaitu suatu bentuk putusan di mana predikat belum termasuk ke dalam subyek. Meski demikian, sifat sintetik a pesteriori ini memberikan pengetahuan yang baru, namun sifatnya tidak tetap, dan sangat bergantung pada ruang dan waktu sehingga kebenaran di sini sangat bersifat subyektif.
Secara fenomenologis, pengetahuan terbagi menjadi dua yaitu pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori. Pengetahuan a priori merupakan pengetahuan yang bersumber dari rasio atau akal, sedangkan pengetahuan a posteriori merupakan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman. Sementara metode untuk memperoleh pengetahuan juga dibedakan menjadi dua, yaitu pengetahuan sintetik dan pengetahuan analitik. Pengetahuan sintetik merupakan hasil keadaan yang mempersatukan dua hal yang terpisah, sedangkan pengetahuan analitik merupakan hasil analisa. Kombinasi antara sumber dan metode pengetahuan ini melahirkan 4 (empat) jenis pengetahuan, yaitu:
1.      Pengetahuan sintetik a priori, merupaka pengetahuan yang dihasilkan oleh penyelidikan akal terhadap bentuk-bentuk pengalamannya sendiri dan mengabungkan unsur-unsur yang tidak saling bertumpu. 
2.      Pengetahuan sintetik a posteriori, merupakan pengetahuan yang diperoleh setelah ada pengalaman sehingga pengetahuan ini adalah bentuk pengetahuan empiris yang lazim. 
3.      Pengetahuan analitik a priori, yaitu pengetahuan yang dihasilkan oleh analisa terhadap unsur-unsur yang a priori. 
4.      Pengetahuan analitik a posteriori, yaitu pengetahuan yang dihasilkan oleh penyelidikan akal terhadap bentuk-bentuk pengalamannya sendiri dan penggabungan unsur-unsur yang tidak saling bertumpu, serta diperoleh setelah adanya pengalaman.
Dengan keempat sumber dan metode mengetahui tersebut, Kant mencoba membuktikan bahwa kemampuan rasio dan pengalaman tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling berada di dalam kelemahan dan kekuatannya masing-masing. Rasio memiliki kemampuan menangkap kebenaran pengetahuan secara umum, tetapi lemah dan kabur terhadap pengetahuan konkret khusus. Sebaliknya, pengalaman memiliki kekuatan mengenali setiap hal yang khusus, tetapi kabur terhadap prinsip-prinsip umum. Dengan demikian, Immanuel Kant menyatakan bahwa segala macam pengetahuan itu diperoleh dari pemikiran dan pengalaman atau dalam bahasa filsafat disebut sebagai analitik a priori (teori) dan sintetik a posteriori (kerja nyata), sehingga dapat disebut sebagai sintetik a priori.
Immanuel Kant merupakan filsuf modern yang paling berpengaruh. Pemikirannya yang analisis dan tajam memasang patok-patok yang mau tak mau menjadi acuan bagi segenap pemikiran filosofis kemudian, terutama dalam bidang epistimologi, metafisika, dan etika. Dari pertentangan antara Empirisme dan Rasionalisme, Kant mengemukakan tiga pembedaan perumusan kebenaran, yaitu akal budi (verstand), rasio (vernunft) dan pengalaman indrawi. Selain itu, karya Kant yang terkenal tentang kritisisme adalah:
1.      Critique of Pure Reason (1781) (kritik atas rasio murni)
Adapun inti dari isi buku yang berjudul Kritik atas Rasio Murni adalah sebagai berikut:
a)      Kritik atas akal murni menghasilkan skeptisisme yang beralasan.
b)      Tuhan yang sesungguhnya adalah kemerdekaan dalam pengabdian pada yang di cita-citakan. Akal praktis adalah berkuasa dan lebih tinggi dari pada akal teoritis.
c)      Agama dalam ikatan akal terdiri dari moralitas. Kristianitas adalah moralitas yang abadi.
2.      Critique of Practical Reason (1788) (kritik atas rasio praktis)
Rasio praktis yaitu rasio yang mengatakan apa yang harus kita lakukan, atau dengan lain kata, rasio yang memberikan perintah kepada kehendak kita. Kant memperlihatkan bahwa rasio praktis memberikan perintah yang mutlak yang disebutnya sebagai imperative kategori. Kant beranggapan bahwa ada tiga hal yang harus disadari sebaik-baiknya agar ketiga hal itu dibuktikan sehingga Kant menyebutnya sebagai ketiga postulat dari rasio praktis. Ketiga postulat itu adalah:
a)      Kebebasan kehendak
b)      Inmoralitas jiwa
c)      Adanya Allah
Dalam kritiknya, Kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan bersifat umum, mutlak dan pengertian baru sehingga Kant membedakan tiga aspek putusan. Pertama, putusan analitis a priori, di mana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subyek, karena termasuk di dalamnya (misalnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, putusan sintesis a posteriori, misalnya pernyataan bahwa meja itu bagus di sini predikat dihubungkan dengan subyek berdasakan pengalaman indrawi. Ketiga, putusan sintesis a priori, yang dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang bersifat sintesis, tetapi bersifat a priori juga, misalnya, putusan yang berbunyi segala kejadian mempunyai sebab.


3.      Critique of Judgment (1790) (kritik atas pertimbangan)
Adapun inti dari isi buku yang berjudul Kritik atas Pertimbangan adalah sebagai berikut:
a)      Kritik atas pertimbangan menghubungkan di antara kehendak dan pemahaman.
b)      Kehendak cenderung menuju yang baik, kebenaran adalah objek dari pemahaman.
c)      Pertimbangan yang terlibat terletak di antara yang benar dan yang baik
d)      Estetika adalah cirinya tidak teoritis maupun praktis, ini adalah gejala yang ada pada dasar subjektif.
e)      Teologi adalah teori tentang fenomena, yang bertujuan:
§         subjektif (menciptakan kesenangan dan keselarasan)
§         objektif (menciptakan yang cocok melalui akibat-akibat dari pengalaman).[5]

D.    Kritisisme Madzhab Frankfurt
Mazhab Frankfurt merupakan kumpulan beberapa pemikir Jerman yang mengangap bahwa pemikiran Marx telah didistorsi oleh Engels an para pemikir Lenin-Marxis yang diakibatkan oleh kegagalan revolusi kaum pekerja di Eropa Barat setelah Perang Dunia I dan oleh bangkitnya Nazisme di negara yang secara ekonomi, teknologi, dan budaya maju yaitu Jerman. Oleh Karena itu, mereka merasa harus memilih bagian mana dari pemikiran-pemikiran Marx yang dapat menolong untuk memperjelas kondisi-kondisi yang Marx sendiri tidak pernah lihat. Pada awalnya pemikiran Marx dijadikan tolak ukur pemikiran sosial aliran tersebut. Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa aliran Frankfurt merupakan perwujudan usaha untuk kembali mengkaji pemikiran pemikiran Hegelian Kiri (Hegelian Leftism), yaitu pemikiran hegel sekitar tahun 1840-an. Sama halnya dengan generasi awal pencetus teori kritis, seperti Hegel dan Immanuel Kant, tokoh-tokoh Frankfurt tertarik degan kajian mengenai kajian filsafat dan ilmu-ilmu non alamiah seperti sociologi , ekonomi, musikologi, psikologi, Ilmu politik dan lain-lain.
Pada dasarnya Teori Kritis Aliran Frankfurt ingin memperjelas struktur yang dimiliki oleh masyarakat pasca industri serta melihat akibat-akibat struktur tersebut dalam kehidupan manusia dan kebudayaan secara rasional. Teori Kritis ingin menjelaskan hubungan manusia dengan bertolak dari pemahaman rasio instrumental. Teori Kritis ingin membangun teori yang mengkritik struktur dan konfigurasi masyarakat aktual sebagai akibat dari suatu pemahaman yang keliru tentang rasionalitas.
Frankfurt School merupakan istilah populer untuk menyebut kelompok cendekiawan yang terhimpun dalam Frankfurt Institute of Sosial Reaseach yang berpusat di Universitas Frankfurt Jerman. Lembaga ini didirikan oleh Felix J. Weil pada tanggal 3 Februari 1923 dan mendapat dukungan dari sekelompok intelektual Marxian yang berlatarbelakang berbagai disiplin ilmu pengetahun. Di antara mereka yang terkenal adalah Max Hokheimer, Theodore Adorno, Herbert Marcuse dan yang paling kontemporer adalah Habermas. Meskipun mereka sangat dipengaruhi oleh Marx namun mereka berpendapat bahwa teori Marx sudah tidak mampu mengungkapkan sifat masyarakat secara akurat, sehingga mereka memandang perlu dikembangkan lebih lanjut.
Cendekiawan yang tergabung dalam aliran ini memiliki ciri khas yaitu kritis terhadap berbagai aspek kehidupan sosial untuk mengungkapkan sifat masyarakat modern secara lebih akurat. Tak heran jika kemudian aliran mereka disebut sebagai teori kritis. Mereka mengembangkan pemikirannya dengan bertolak dari keinginan untuk memperoleh teori sosial dan epistemologi alternatif terhadap paradigma positivisme yang dianggap sudah tidak relevan lagi.
Madzhab Frankfurt menolak pandangan Marxisme yang terlalu menekankan pada determinisme ekonomi. Karena pandangan determinisme ekonomi berangkat dari asumsi pemikiran positivistic yang menganggap bahwa metode ilmu alam dan prinsip ilmu alam dapat diterapkan dengan tepat pada bidang ilmu pengetahuan sosial budaya. Mereka memandang ilmu pengetahuan sosial budaya tidak bisa disamakan dengan ilmu alam, karena alam secara mendasar sangat berbeda dengan manusia dan kegiatannya. Dalam pandangan Habermas paradigma positivisme itu mengabaikan peran manusia sebagai aktor yang memiliki karakteristik khas dan unik tidak seperti robot. Teori yang berusaha dibangun oleh Madzhab Frankfurt ingin melepaskan kehidupan dari model cara berpikir positivisme (rasionalitas instrumental) dimana terjadi penjajahan dunia kehidupan (labenswelt) oleh sistem.
Berangkat dari paradigma di atas maka Madzhab Frankfurt lebih menekankan kajiannya pada persoalan kultural. Mereka berkeyakinan bahwa ramalan Marx tentang akan hancurnya system kapitalisme tidak akan terbukti. Karena kapitalisme telah mengkonsolidasikan dan mengembangkan mekanisme efektif seperti pemenuhan hak-hak pekerja secara lebih proporsional, sehingga revolusi sosial yang akan menghancurkan kapitalisme tidak akan terjadi. Bentuk penindasannya pun tidak dengan cara fisik melainkan sangat halus sehingga kaum pekerja menganggapnya sebagai sesuatu yang normal. Atas dasar pertimbangan itu maka para eksponen madzhab Frankfurt mengalihkan perhatiannya dari analisis ekonomi kapitalistik ke kritik atas penggunaan rasio intrumental pada masyarakat modern.
Menurut Madzhab Frankfurt, rasio instrumental telah menghasilkan budaya industri (culture industry) yang telah menghalangi perkembangan individu secara otonom. Penindasan yang dilakukan oleh budaya industri lebih dominan dari sekedar dominasi ekonomi. Adorno dan Hokheimer mengatakan dalam Dialectical Imagination, bahwa budaya industri telah membuat manusia tereifikasi. Manusia menjadi seperti robot yang dideterminasi oleh iklan yang ditampilkan oleh media massa. Manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih lagi karena semuanya telah ditentukan, distandarkan oleh budaya industri. Kostumer tidak lagi menjadi raja, tidak lagi menjadi subjek, tapi menjadi budak dan objek.[6]









BAB III
PENUTUP

Kant memandang rasionalisme dan empirisme senantiasa berat sebelah dalam menilai akal dan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Kant tidak menentang adanya akal murni, ia hanya menunjukkan bahwa akal murni itu terbatas. Akal murni menghasilkan pengetahuan tanpa dasar indrawi atau independen dari alat pancaindra.
Pemikiran-pemikiran Kant yang terpenting diantaranya adalah tentang “akal murni”. Menurut Kant dunia luar itu diketahui hanya dengan sensasi, dan jiwa, bukanlah sekedar tabula rasa. Tetapi jiwa merupakan alat yang positif, memilih dan merekontruksi hasil sensasi yang masuk itu dikerjakan oleh jiwa dengan menggunakan kategori, yaitu dengan mengklasifikasikan dan memersepsikannya ke dalam idea. Melalui alat indara sensasi masuk ke otak, lalu objek itu diperhatikan kemudian disadari. Sensasi-sensasi itu masuk ke otak melalui saluran-saluran tertentu yaitu hukum-hukum, dan hukum-hukum tersebut tidak semua stimulus yang menerpa alat indra dapat masuk ke otak. Penangkapan tersebut telah diatur oleh persepsi sesuai dengan tujuan. Tujuan inilah yang dinamakan hukum-hukum (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004: 121).
Demikian gagasan Immanuel Kant yang menjadi penggagas Kritisisme. Filsafat memulai perjalanannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Maka Kritisisme berbeda dengan corak filsafat modern sebelum sebelumnya yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak.
Dengan Kritisisme yang diciptakan oleh Immanuel Kant, hubungan antara rasio dan pengalaman menjadi harmonis, sehingga pengetahuan yang benar bukan hannya pada rasio, tetapi juga pada hasil indrawi. Kant memastikan adanya pengetahuan yang benar-benar “pasti”, artinya menolak aliran skeptisisme, yaitu aliran yang menyatakan tidak ada pengetahuan yang pasti.





DAFTAR PUSTAKA

Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum, Jakarta:Raja Wali Pres, 2004

Abdur Rozak dan Isep Zainal Arifin,Filsafat Umum, Gema Media Pustakama, Bandung, 2002

https://ilmuawan9saja.wordpress.com/2012/12/12/kritisisme-immanuel-kant/

http://dewimardhiyana.blogspot.com/2013/11/filsafat-kritisisme-immanuel-kant.html

http://afinz.blogspot.com/2011/12/teori-kritis-madzhab-frankfurt.html


[1] https://ilmuawan9saja.wordpress.com/2012/12/12/kritisisme-immanuel-kant/, dikutip pada tanggal 13 Mei 2015@13.05 PM
[2] Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum, Jakarta:Raja Wali Pres, 2004, hlm 132
[3] Abdur Rozak dan Isep Zainal Arifin,Filsafat Umum, Gema Media Pustakama, Bandung, 2002:282
[4] Abdur Rozak dan Isep Zainal Arifin, Ibid
[5] http://dewimardhiyana.blogspot.com/2013/11/filsafat-kritisisme-immanuel-kant.html, dikutip pada tanggal 13 Mei 2015@11.05 AM
[6] http://afinz.blogspot.com/2011/12/teori-kritis-madzhab-frankfurt.html, dikutip pada tanggal 13 Mei 2015@11.32 AM

0 comments:

Post a Comment