Thursday, December 8, 2016

HUMANISME DAN RENAISSANCE



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Orang yang yang mula-mula sekali menggunakan akal secara serius adalah orang Yunani yang bernama Thales (kira-kira taqhun 624-456 SM). Orang inilah yang digelari Bapak Filsafat. Gelar itu diberikan kepadanya karena ia mengajukan pertanyaan yang aneh, yaitu “apakah sebenarnya bahan alam semesta ini?” ia sendiri menjawab: “air.Setelah itu silih bergantilah filosuf sezamannya dan sesudahnya mengajukan jawabannya.[1]
Hasil kerja akal yang mulai mengagetkan manusia awam dilontarkan oleh Heraclitus yang hidup pada sekitar tahun 500-an SM, yaitu tatkala ia berkata bahwa sesungguhnya yang sungguh-sungguh ada, yang hakikat ialah gerak dan perubahan.” Jadi bila orang awam melihat sebuah patung dini hari yang diam, sesungguhnya patung itu bergerak dan berubah terus. Jadi indra kitalah yang tertipu atau yang menipu. Argumen sebaliknya diberikan oleh Parminides, bahwa yang sungguh-sungguh ada adalah “diam, tetap, tidak berubah, tidak bergerak[2]
Keterangan tersebut di atas memperlihatkan bahwa karya akal memang cukup berat. Keadaan ini dibuat semakin ramai oleh kemunculan Zeno juga orang Yunani. Kemunculannya dapat dianggap menandai mulainya pemikiran sofisme” Ia berhasil membuktikan bahwa ruang kosong itu tidak ada, pluralisme (jamak) itu juga tidak ada, gerak tidak ada. Semua yang mapan dalam pandangan orang awam ketika itu menjadi goyah. Puncak kebingungan itu terlihat pada tokoh sofisme terbesar yaitu Protagoras ia menyatakan bahwa manusia adalah ukuran segala-galanya. Inilah rumus utama relativisme” kebenaran telah direlatifkan. Yang benar ialah yang benar menurutku, menurutmu; kebenaran obyektif tidak ada. Jadi tidak ada kebenaran yang pasti tentang pengetahuan, etika, metafisika, juga tentang agama. Pemikiran ini berpengaruh pada keyakinan agama orang Athena ketika itu. Akibatnya yang lebih jauh yaitu orang Athena terutama pemudanya, menjadi orang bingung tanpa pegangan, sendi-sendi agama telah digoyahkan, dasar-dasar pengetahuan telah diguncangkan.[3]
Menghadapi keadaan ini, muncul orang Yunani yaitu Socrates kira-kira tahun 470-399 SM, orang yang taat beragama, ia berpendapat bahwa yang benar secara obyektif itu ada, itu dapat dipegang. Kebenaran relative memang ada juga. Ia berusaha mengajak pemuda-pemuda Athena untuk mempercayai adanya kebenaran obyektif, yang dapat dipegang, kemudian mengajak pemuda-pemuda itu untuk kembali meyakini agama mereka. Penemuan yang terpenting Socrates adalah definisi atau pengertian umum. Ia berhasil menginsafkan pemuda athena ketika itu bahwa ada kebenaran yang umum dan dapat dipegang, dan agamapun mesti dianut kembali . Akan tetapi hasil ini harus ditebusnya dengan hukuman mati untuk dirinya dengan minum racun, melaksanakan keputusan pen gadilan Athena. Usahanya ini diteruskan oleh Plato.[4]
Seterlah peristiwa itu, pemikiran manusia memasuki suatu priode yang panjang sekali, kira-kira 1500 tahun.  Periode inilah yang disebut abad pertengahan. Pada dasarnya filsafat pada periode ini dipengaruhi oleh Kristen. Selama periode yang panjang ini, filsafat boleh dikatakan tidak banyak menghasilkan penemuan. Pemikiran seperti direm. Yang mengeremnya adalah orang-orang Kristen atas nama agama Kristen. Akal dikekang dan dikungkung secara keterlaluan oleh agama Kristen. Periode ini sering disebut periode skolastik, filsafatnya disebit fiolsafat skolastisisme.[5] Periode ini seolah- olah merupakan periode balas dendamterhadap merajalelanya akal pada periode sebelumnya. Periode ini juga disebut masa kegelapan bagi Eropa.
Pada abad pertengahan, manusia sepenuhnya berada dalam posisi pasif dan merasa tidak memiliki daya apapun tanpa ada kekuatan gaib. Bahkan untuk menyelamatkan diri dari kejahatan pun tidak ada jalan lain untuk mereka kecuali mengandalkan peninggalan-peninggalan suci. Hal ini terlihat bahwa manusia pada abad pertengahan ini, meyakini dirinya berada di tengah konflik yang terlihat dalam berbagai bentuk, antara lain terjadi dalam bentuk pertikaian antara dua ajaran moral, satu berbasiskan alam natural dan yang lain berbasiskan ketuhanan. Kadang juga dalam bentuk antara filsafat rasional dan filsafat samawi, dan akhirnya masyarakat abad pertengahan menyaksikan dirinya berada ditengah konflik antara institusi dunia dan istitusi gereja. Dua wilayah agama dan dunia terpisah total satu dengan yang lain, sehingga tidak ada peluang ekspansi satu terhadap yang lain, atau pembauran antar keduanya. Seorang manusia kalau tidak melangit” haruslah membumi, dengan kata lain kalau tidak meyakini kekuasaan alam gaib terhadap segala urusan hidupnya, maka dia harus memutuskan hubungannya dengan Tuhan dan ruh-ruh kudus. Jika menghargai jasmani dan urusan materinya, maka dia bukan lagi seorang rohaniawan, berarti telah memutuskan hubungan dengan Tuhan.[6]
Dengan demikian, kerangka berpikir yang dominan pada abad pertengahan dan tekanan kuat para elit gereja yang menganggap dirinya pengawas tatanan yang menguasai dunia dan telah mengintrogasi ideology para ilmuan dan menyeret mereka kepengadilan serta menganggap kegiatan ilmiah sebagai campur tangan setan,  faktor-faktor inilah antara lain yang menjadi latar belakang munculnya renaissance yang telah melahirkan teriakan protes terhadap tradisi yang dominan pada abad pertengahan.





B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian tersebut di atas, makalah ini akan membahas tentang;
1.      Apa yang dimaksud dengan Humanisme dan bagaimana latar belakang kemunculannya?
2.      Apa yang dimaksud dengan Renaissance dan bagaimana latar belakang kemunculannya?
3.      Seperti apa penjelasan dari Humanisme dan Renaissance sebagai awal kelahiran Filsafat Modern?



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Kemunculan Humanisme dan Renaissance
a)      Pengertian Humanisme
Pada dasarnya istilah humanisme mempunyai riwayat dan pemaknaan yang kompleks. Humanisme sebagai sebuah istilah mulai dikenal dalam wacana filsafat sekitar abad ke 19. Menurut K. Bertens, istilah humanisme pertama kali digunakan dalam literature di Jerman, sekitar tahun 1806 dan di Inggeris sekitar tahun 1860.
Humanisme diawali dari term humanis atau humanum (yang manusiawi) yang lebih jauh dikenal, yaitu mulai sekitar masa akhir zaman skolastik di Italia. Istilah humanis (humanum) tersebut dimaksudkan untuk menggebrak kebekuan gereja yang memasung kebebasan, kreatifitas, dan nalar manusia yang diinspirasi dari kejayaan kebudayaan Rumawi dan Yunani. Gerakan humanis berkembang dan menjadi cikal bakal lahirnya renaissance di Eropa.[7]
Berdasarkan catatan sejarah, humanisme memperoleh pengakuan pada abad ke- 14 di Italia melalui pemajangan berbagai literature dan ekspresi seni Yunani dan Rumawi pra Kristen, yang ditemukan kembali oleh para pastur, di dinding-dinding museum. Ciri khas humanisme adalah sikap keberagamaan yang inklusif. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai karya Plato dan Aristoteles yang mengusung kandungan moral dari Injil. Puncak dari humanisme jenis ini dicapai oleh Erasmus, seorang sarjana Belanda dari Rotterdam pada abad ke-16.[8]
Model humanisme yang kedua dinamakan Neo Humanisme. Neo- Humanisme berkembang pada abad ke-18 ketika para seniman, filsuf dan kaum intelektual melirik kembali masa Yunani dan Rumawi klasik. Konsep humanisme dipandang memiliki kesamaan dengan konsep Yunani kuno tentang bentuk tubuh dan pikiran yang harmonis. Dari permulaan abad ke-19 dan seterusnya, humanisme dipandang sebagai prilaku social politik yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan lembaga-lembaga politik dan hukum yang sesuai dengan ide tentang martabat kemanusiaan.[9]
Humanisme sebagai sebuah term menuai berbagai pemaknaan, tergantung dari berbagai sudut pandang dan tinjauan yang digunakan. A. Lalande, menyebutkan beberapa pengertian humanisme, diantaranya ada yang saling bertentangan.  Salah satu pengertian humanisme adalah gerakan humanis di Eropa yang memandang manusia dalam perspektif “manusiawi” belaka yang bertentangan dengan perspektif religious (agama). Dia juga menyebutkan pengertian humanisme sebagai pandangan yang menyoroti manusia menurut aspek-aspek yang lebih tinggi (seni, ilmu pengetahuan, moral, dan agama) yang bertentangan dengan aspek-aspek yang lebih rendah dari manusia. Ali Syariati menyebutkan pengertian humanisme sebagai himpunan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang berorientasi pada keselamatan dan kesmpurnaan manusia.[10]
Secara umum, humanisme berarti martabat (dignity) dan nilai (value) dari setiap manusia, dan semua upaya untuk meningkatkan kemampuan- kemampuan alamiahnya secara penuh. Kemuliaan manusia sendiri terletak dalam kebebasannya untuk menentukan pilihan sendiri dan dalam posisinya sebagai penguasa atas alam. Gagasan ini mendorong munculnya sikap pemujaan tindakan terbatas pada kecerdasan dan kemampuan individu dalam segala hal
Saat ini, konsep humanism tidak lagi dihubungkan dengan orang-orang Eropa, yakni dengan kebudayaan Romawi dan Yunani Kuno. Humanisme berkembvang menjadi gerakan lintas budaya dan universal, dalam arti berbagai sikap dan kualitas etis dari lembaga-lembaga politik yang bertujuan membentengi martabat manusia.
b)      Latar Belakang Lahirnya Humanisme
Di bawah komando keluarga Medici atau setidaknya pada zaman merekalah para humanis mulai menarik perhatian dan mewarnai opini masyarakat Italia. Kaum Humanis menggiring perhatian rakyat dari agama ke filsafat dan dari langit ke bumi. Sejak zaman Ariosto Ludovico, orang-orang gila ilmu pengetahuan ini mulai tenar dengan nama kaum humanis, sebab mereka membaca telaah kebudayaan klasik tentang humanitas (berkaitan dengan dunia manusia) atau humanuras ( kesusastraan yang lebih manusiawi, dan bukan berarti kesusastraan yang lebih berprikemanusiaan, melainkan kesusastraan yang lebih banyak berkaitan dengan dunia manusia), artinya manusia itu sendiri dengan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, keindahan jasmani dengan segala kesenangan dan penderitaan panca indera dan perasaannya dan segala kekuatan akalnya yang menakjubkan. Poin-poin inilah yang mendapat perhatian penuh seperti yang pernah terjadi dalam kesusastraan dan seni Yunani dan Rumawi kuno.[11]
Erasmus adalah salah seorang pelopor humanisme yang telah melakukan reformasi keagamaan dalam menghadapi eksklusivitas dan monopoli para elit gereja. Dia berjuang keras untuk menghapus peranan para penguasa gereja sebagai perantara antara Tuhan dan manusia. Dia mengatakan “jalan itu mudah dan terbuka untuk siapa saja. Bekal perjalanan kalian hanya jiwa yang bersih dan lapang serta adanya keimanan yang cemerlang dan murni dalam hati kalian”.[12]
Erasmus berpendapat bahwa kitab suci harus disosialisasikan kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah. Dia mengecam keras penyimpangan- penyimpangan teologis yang dilakukan oleh para elit gereja. Dari sisi lain Erasmus juga berusaha menciptakan ikatan yang erat antara era klsik dan ajaran-ajaran Kristen. Ia mengatakan bahwa “bukankah filsafat Al-Masih yang disebutnya sendiri sebagai kelahiran kembali, tidak lain adalah pengembalian fitrah manusia yang pada zaman azali sudah diciptakan dengan bentuk yang sesuai. Beliau juga mengatakan bahwa ajaran-ajaran era klasik menunjukkan kesucian fitrah manusia.  Karena itu tidak sepatutnya ajaran-ajaran itu dihindari dengan alas an mengandung politheisme. Erasmus termasuk pencetus pandangan kompromisasi atau pandangan tentang toleransi.[13]
Pada abad-abad pertengahan, manusia diposisikan sebagai makhluk yang pasif dan tak punya ikhtiar apapun di depan para elit gereja. Akibatnya, pada era renaissance lahirlah sebuah gerakan dengan misi mengembalikan kebebasan manusia yang telah dinistakan. Mula-mula gerakan ini memperioritaskan reformasi keagamaan, dan setelah beberapa lama secara ekstrim gerakan ini menentang segala sesuatu yang dipaksakan dengan atas nama agama. Pencorengan citra agama yang dilakukan para penguasa gereja abad pertengahan telah menimbulkan sebuah gerakan yang bernama humanisme yang bermula pada era renaissance, sebuah gerakan yang menganggap kebahagiaan manusia hanya bisa dicapai dengan kembali kepada era klasik. Kaum humanis meyakini bahwa manusia pada era klasik telah mengandalkan potensi-potensi wujudnya tanpa keterikatan kepada agama, gereja, dan para penguasa gereja.  Jalan kembali kepada era klasik bisa ditempuh melalui perhatian kepada kebudayaan dan kesusastraan klasik.[14]
Kaum Humanis memandang penekanan kepada ilmu logika dan ilmu- ilmu teoritas seperti ilmu metafisik sebagai sikap yang kurang patut. Mereka hanya berminat kepada bidang-bidang yang berfungsi langsung dengan kehidupan masyarakat, seperti retorika dan cabang-cabangnya termasuk politik, sejarah dan syair.  Selain itu, mereka juga tertarik kepada bidang dialektika atau seni dialog. Secara umum, kaum humanis terikat kepada pemikiran mengenai kedudukan dan potensi manusia di dunia tanpa mempertimbangkan nasib manusia di alam azali.[15]
Pada masa kemunculan humanisme, dalam waktu singkat karya-karya sastra dan filsafat Yunani klasik sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan-terjemahan ini memiliki kecermatan yang lebih tajam ketimbang terjemahan yang dilakukan pada abad ke-12 dan 13. Guvarino menerjemahkan karya  Strabon dan  Plotarckh ke dalam bahasa Latin. Travarsory menerjemahkan karya-karya Divagnos Lairitos, Valla menerjemahkan karya- karya Herodotus, Tosilid, dan Iliad Homer, Proti menerjemahkan karya-karya Polybius, dan Vicino menerjemahkan karya-karya Plato dan Platinus.
Di antara sekian karya-karya klasik itu, karya-karya Plato yang paling banyak memukau para humanis. Mereka mengapresiasi dan cemburu menyaksikan kebebasan orang-orang Yunani zaman Socrates yang bisa dengan leluasa mengupas berbagai persoalan agama dan politik yang paling sensitif. Carlo Masopini sedemikian keras mengapresiasi kebudayaan klasik era politis sampai-sampai dia berangan untuk berpaling dari kekeristenan. Tokoh humanis Italia yang paling berkarya dan kontraversial ialah Pod Ju Bratcolini yang memnulis surat-surat kepada Paus Martin V untuk melakukan pembelaan sengit terhadap dogma-dogma gereja. Tetapi kemudian dalam sebuah pertemuan eksklusif dengan segenap karyawan istana Paus, dia tak segan-segan menertawakan keyakinan-keyakinan Kristen. Dia menulis surat-suratnya dengan bahasa Latin yang tidak fasih namun memikat. Lewat surat- surat ini ia mencemooh ketidaksucian para ruhaniwan.[16]
Kekeristenan, baik dari aspek teologi maupun moral, sudah kehilangan pengaruhnya terhadap sebagian besar kaum humanis Italia. Kebebasan berpikir dan aktifitas masyarakat Yunani atau masyarakat Rumawi zaman Augustine semakin bangkit kecemburuan mayoritas kaum humanis sehingga menggungcangkan keyakinan-keyakinan mereka sebelumnya kepada prinsip- prinsip Kristen yang menyangkut kerendahan diri, hasrat kepada dunia, dan ketakwaan. Mereka sendiri keheranan mengapa jiwa, raga, dan akal mereka harus tunduk kepada komando gereja, sementara orang-orang gereja sendiri bersenang-senang dan memuja dunia. Bagi kaum humanis, selang waktu sepuluh abad antara Costantine dan Dante merupakan masa yang tragis dan penyimpangan dari jalan yang benar. Legenda mengenai Santa Maria dan orang-orang suci lainnya terhapus dari benak mereka untuk kemudian digantikan dengan lagu-lagu dua jenis Horace, sedangkan gereja-gereja dengan segala kemegahannya mereka anggap sebagai Barbarisme. Inilah secara umum sikap kaum Humanis di mana kekeristenan seakan-akan merupakan mitos.[17]
Hal ini dapat dilihat bahwa di mata sebagian kaum humanis, agama dan pencerahan pemikiran merupakan dua kutub yang saling bertentangan. Agama adalah milik masyarakat awam, sedangkan bagi para pemikir, kepatuhan kepada agama merupakan prilaku yang menyalahi kebebasan berpikir. Mereka bukannya melenyapkan bencana akibat penyalah gunaan agama yaitu kerakusan, despotism (kezaliman) system gereja yang telah membendung nilai, ikhtiar, dan kebebasan manusia abad pertengahan, tetapi malah sekaligus menyerang dan mencabut akar-akar agama dan keberagamaan.
Sebagian besar kaum humanis sudah tidak lagi berpikir tentang alam transcendental, karena mengira pahala hanya terbatas pada kehidupan dunia, kaum humanis berusaha membuat patung-patung orang-orang yang sukses sebagai hadiah untuk mereka. Oleh karena itu, seni humanistic banyak mengacu kepada apa yang disaksikan dan jarang sekali memperlihatkan hasrat kepada ide-ide yang gaib dan tidak tampak oleh mata. Dengan kata lain, seni humanistic lebih merupakan seni realism yang tidak ada hubungannya dengan hakikat.[18] Dari penjelasan tersebut tampak bahwa gerakan humanistic merupakan manifestasi dari perlawanan dan protes para cendekiawan Italia terhdap pemerintahan dictatorial para elit gereja dan kaum feodalis.
c)      Pengertian Renaissance
Renaissance secara etimologi berasal dari bahasa Perancis yaitu renaissance yang merupakan terjemahan dari kata Italia rinascimento, maksudnya kelahiran kembali. Secara bebas kata Renaissance dapat diartikan sebagai masa peralihan antara abad pertengahan ke  abad modern yang ditandai dengan lahirnya berbagai kreasi baru yang dilhami oleh kebudayaan Eropa klasik (Yunani dan Rumawi) yang lebih bersifat dunia.[19] Periode ini dipandang sebagai penemuan kembali cerahnya peradaban Yunani dan Rumawi yang dianggap sebagai “klasik” ketika keduanya mengalami masa keemasan.   Pengertian riilnya adalah manusia mulai memiliki kesadaran-kesadaran baru yang mengedepankan nilai dan keluhuran manusia. Suasana dan budaya berpikirnya memang melukiskan “kembali” kepada semangat awal, yaitu semangat filsafat Yunani kuno yang mengedepankan penghargaan terhadap kodrat manusia itu sendiri. Zaman ini lebih merupakan gerakan kebudayaan dari pada aliran filsafat. Keluhuran dan kehebatan manusia tampak dalam ungkapan-ungkapan seni hasil karya manusia.[20] Politik tidak lagi dipikirkan dalam kaitannya dengan iman dan agama, tetapi dengan politik itu sendiri, sebab politik mempunyai etika dan moralnya sendiri. Etika politik adalah etika kekuasaan, artinya tunduk pada pertimbangan-pertimbangan kestabilan dan keselamatan Negara, bangsa, pemerintahan dan kekuasaan.
Bila abad pertengahan memegang teguh konsep ilmu pengetahuan sebagai rangkaian argumentasi, jaman renaissance merombaknya dengan paham baru, yaitu bahwa ilmu pengetahuan itu adalah soal eksprimentasi. Pembuktian kebenaran bukan lagi pembuktian argumentative-spekulatif, melainkan eksprimental-matematis-kalkulatif.. Di sini filsafat memegang fungsinya yang baru yaitu meletakkan dasar-dasar bangunan pengembangan aneka ilmu alam/pasti yang merintis hadirnya tehnologi-tehnologi seperti yang kita nikmati sekarang ini.
d)      Latar Belakang Lahirnya renaissance
Telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya tentang pengertian renaissance yakni kelahiran kembali, yang menyiratkan sebuah pembangunan kembali atau kebangkitan. Renaissance adalah sebuah gerakan kebudayaan antara abad ke-14-17, bermula di Italia pada akhir abad pertengahan, kemudian menyebar ke Eropa. Gerakan ini mencakup kebangkitan pengetahuan berdasarkan sumber-sumber klasik. Gerakan pencerahan ini memberika efek yang luar biasa pada semua usaha untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, tapi yang paling terkenal adalah kemajuan dari segi kesenian dan kontribusi dari orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi dalam berbagai macam hal, seperti Leonardo da Vinci, dan Michelangelo yang menyebabkan munculnya sebutan “Renaissance Men”.[21]
Kemunculan Renaissance pertama kali diperkenalkan di Eropa Barat, di kawasan Italia, hal ini dipicu oleh kekalahan tentara salib dalam perang suci. Kekalahan tersebut membuat para pemikir dan seniman menyingkir dari Rumawi Timur menuju Eropa Barat. Haln ini memberi peluang kepada para seniman, ilmuan dan para kaum humanis untuk mendobrak tradisi lama dan mengembalikan kejayaan Eropa seperti pada jaman Rumawi dan Yunani kuno. Juga mereka menyadari telah dimulainya masa mesiu peledak, untuk menguasai teknologi tersebut mereka harus melepaskan diri dari pengaruh mistisime abad pertengahan, dengan kembali kepada sains zaman klasik yang sebelumnya dilarang karena dianggap pelanggaran terhadap misi ketuhanan.[22] Dengan demikian kemunculan zaman renaissance yang lekat disebut sebagai zaman humanisme antara lain dilatar belakangi oleh penindasan gereja. Penyebab lain adalah adanya perang salib, karena pada saat itu gereja dan kerajaan di Eropa berada dalam keadaan lemah, karena sedang berperang. Hal ini memberikan peluang kepada para seniman , ilmuan, dan para humanis untuk mendobrak tradisi lama dan mengembalikan kejayaan Eropa seperti pada jaman Rumawi dan Yunani kuno.
Perkembangan pertama renaissance terjadi di kota Florence. Keluarga Medici yang memiliki masalah dengan system pemerintahan kepausan menjadi penyokong keuangan dengan usaha perdagangan di wilayah Miditeraniah. Hal ini membuat para intelektual dan seniman memiliki kebebasan besar karena tidak lagi perlu memikirkan masalah keuangan dan mendapatkan perlindungan dari kutukan pihak gereja. Keleluasaan ini didukung oleh tidak adanya kekuasaan dominan di Florence. Kota ini dipengaruhi secara bersama oleh bangsawan dan pedagang.[23] Dengan kebebasan besar itu, seniman bisa berkumpul dan mendirikan gilda-gilda seni yang mengangkat nama banyak seniman terkenal. Melalui gilda ini, seniman mendelgasikan pekerjaan, bekerja sama, hingga mendidik bakat-bakat baru.

B.     Humanisme dan Renaissance Sebagai Awal Kemunculan Filsafat Modern
Humanisme dan renaissance adalah dua gerakan yang tidak bisa dipisahkan, dan mempunyai keterkaitan yang erat. Humanisme bertujuan untuk menggebrak kebekuan gereja yang memasung kebebasan, kretifitas dan nalar manusia, sedangkan renaissance adalah pendobrakan manusia untuk setia dan konstan dengan jati dirinya, dengan kata lain manusia mulai memiliki kesadaran-kesadran baru yang mengedepankan nilai dan keluhuran manusia.
Telah disinggung pada pembahasan sebelumnya bahwa situasi sebelum era renaissance sedemikian buruknya sehingga para elit gereja yang mengumbar kalim-klaim keagamaan justru tak segan-segan melakukan praktek-praktek tirani, ketidakadilan, dan glamorisme serta menjadikan agama sebagai media untuk meraih kekuasaan dan kedudukan duniawi. Bahkan orang-orang yang saat itu ingin mendapatkan kekuasaan harus menjalin relasi dengan mereka, serta harus tunduk kepada kebesaran dan keagungan kedudukan mereka. Para elit gereja seakan-akan raja-raja untuk langit dan bumi. Pintu surga dianggap tertutup bagi rakyat yang tidak tunduk kepada mereka, dan bahkan rakyat yang tidak tunduk juga diasingkan dari jabatan-jabatan duniawi. Tak cukup dengan mengaku sebagai pengampun dosa, para penguasa di gereja juga mengaku bahwa penjualan tanah surga ada di tangan mereka.[24]
Dalam situasi sedemikian inilah Marttin Luther membahanakan teriakan protes dan pernyataan bahwa kunci keselamatan hanyalah kehendak Tuhan, dan keselamatan bisa dicapai tanpa adanya perantara institusi-institusi sedemikian rupa. Di antara sekian banyak ritual suci gereja, Luther hanya menerima upacara pembaptisan. Menurutnya, pengampunan bukanlah pekerjaan para penguasa gereja. Tuhan ada di semua tempat dan menyaksikan segala keadaan.  Karena itu hanya Tuhanlah yang mengetahui hamba-hambanya yang salih, bukan para eli gereja. Luther menegaskan ikhtiar dan kebebasan manusia.
Kemunculan renaissance banyak memberikan realitas di segala aspek, perhatian yang sungguh-sungguh atas segala hal yang kongkrit dalam lingkup alam semesta, manusia, kehidupan masyarakat dan sejarah. Pada masa ini manusia berupaya memberikan porsi kepada akal secara mandiri. Akal diberi kepercayaan yang lebih besar, karena ada keyakinan bahwa akal mampu menerangkan segala persoalan yang diperlukan, termasuk pemecahannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya perang terbuka terhadap kepercayaan yang dogmatis dan terhadap orang-orang yang enggang menggunakan akalnya. Asumsi yang digunakan adalah semakin besar kekuatan akal, akan semakin cepat melahirkan dunia baru, pada saat itu manusia dapat merasa puas atas dasar kepemimpinan akal yang sehat.[25]  Revolusi  besar dalam ilmu pengetahuan baru terjadi pada jaman modern kurang lebih abad ke-17 namun renaissance dapat dianggap sebagai masa persiapan
Renaissance bukanlah sebuah periode prestasi besar dalam filsafat, tetapi telah melakukan sesuatu yang pasti sebagai permulaan penting bagi kebesaran abad ke- 17. Pertama-tama, renaissance Italia meruntuhkan system skolastik yang rijid sebagai baju pengekang intelektual.  Renaissance telah membangkitkan kembali pemikiran Plato., dan dengan cara demikian setidaknya menuntut pemikiran yang sangat independen sebagaimana yang dipersyaratkan untuk memilih antara Plato dan Aristoteles. Berkenaan dengan kedua filosof ini, renaissance telah mengembangkan ilmu pengetahuan asli dari tangan pertama yang terbebas dari komentar-komentar para Neoplatonis dan keterangan-keterangan dari pada pengulas dari Arab.[26]
Dampak dari renaissance dalam wilayah moral, mendatangkan malapetaka. Aturan-aturan moral lama tidak lagi dihargai. Namun dampak renaissance di luar wilayah moral, menunjukkan kelebihan-kelebihan yang luar biasa. Dalam arsitektur, lukisan dan gerabah, renaissance masih tetap terkenal sampai sekarang. Renaissance menghasilkan orang yang sangat besar seperti Leonardo, Michelangelo, dan Machiavelli.
Leonardo da Vinci, lahir di Vinci, propinsi Firenze (florenze) Italia, tanggal 15 April 1452. Meninggal di Perancis 2 Mei 1519. Beliau adalah seorang arsitek, musisi, penulis, pematung dan pelukis. Ia juga dikenal mendisain banyak ciptaan yang mengantisipasi teknologi modern, contoh ide- idenya tentang tank dan mobil yang dituangkan lewat gambar dwiwarna. Selain itu, ia juga turut memajukan ilmu anatomi, astronomi dan tehnik sipil bahkan juga kuliner.[27]
Michelangelo Buonarotti atau nama lengkapnya dalam bahasa Italia Miechelangelo di Lodovico Buonarotti Simoni, dalam bahas Perancis disebut Michel-Ange, yang kurang lebih berarti malaikat. Lahir pada tanggal 6 Maret 1475, dan meninggal tanggal 18 Februari 1564, seorang pelukis, pemahat, pujangga, dan arsitek zaman renaissance. Sumbangannya yang terkenal adalah studi anatomo di dalam seni rupa. Karyanya yang terbaik adalah patung David, Pieta, dan Fresco di langit-langit Sistine’s Chapel.
Machiavelli (1467-1527), beliau adalah salah satu manusia besar dalam kanca filsafat politik. Filsafatnya ini bersifat ilmiah dan empiris, yang didasarkan pada pengalaman hidupnya sendiri, dan berbicara tentang cara untuk meraih tujuan tertentu, terlepas apakah tujuan itu baik atau buruk.29Inilah antara lain karya Machiavelli yang sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada masa modern.[28]



BAB III
PENUTUP

Humanisme berarti martabat (dignity)  dan  nilai  (value) dari  setiap manusia, dan  semua upaya untuk meningkatkan kemampuan- kemampuan alamiahnya secara  penuh. Sementara, Renaissance merupakan   terjemahan   dari    bahasa   Italia,    rinascimento   berarti kelahiran  kembali, kemudian  berarti  masa   peralihan antara  abad pertengahan  ke     abad   modern  yang   ditandai  dengan  lahirnya berbagai kreasi  baru  yang  dilhami oleh  kebudayaan  Eropa  klasik (Yunani  dan  Rumawi) yang  lebih bersifat  dunia. Dengan pendekatan Historis  dan   metode  content  analysis,  tulisan  ini   menyimpulkan bahwa kemunculan humanisme adalah untuk mengembalikan semangat  dan   kebebasan  manusia  dalam  berkreasi  seperti  yang pernah terjadi   pada masa   Yunani   dan   Rumawi kuno,   sementara, Renaissance dilihat dari  wilayah moral,  mendatangkan malapetaka, karena aturan-aturan moral  lama tidak  lagi dihargai.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian di atas adalah sebagai berikut:
1.         Humanisme adalah martabat dan nilai dari setiap manusia, dan semua upaya untuk menimgkatkan kemampuan-kemampuan alamiahnya secara penuh.
2.         Gerakan humanisme adalah gerakan yang merupakan manifestasi dari perlawanan dan protes para cendekiawan Italia terhadap pemerintahan dictatorial para elit gereja, yang memasung kebebasan, kreatifitas dan nalar manusia.
3.         Kemunculan humanisme adalah untuk mengembalikan semangat dan kebebasan manusia dalam berkreasi seperti yang pernah terjadi pada masa Yunani dan Rumawi kuno
4.         Renaissance adalah lahirnya kembali orang Eropa untuk mempelajari ilmu pengetahuan Yunani dan Rumawi kuno yang ilmiah. Sebelum renaissance bangsa Eropa mengalami jaman kegelapan.  Dalam jaman ini, gereja berkuasa mutlak, ajaran gereja menjadi sesuatu yang tidak boleh dibantah. Dalam perkembangannya mulai muncul gerakan yang mencoba melepaskan dari ikatan tersebut, yang disebut gerakan renaissance. Dalam jaman itu pula, pemikiran-pemikiran ilmiah tenggelam oleh dogma-dogma gereja.
5.         Gerakan renaissance adalah merupakan masa peralihan dari filsafat skolastik abad pertengahan dengan filsafat modern.Yang melatarbelakangi lahirnya renaissance adalah adanya penindasan gereja, juga adanya perang salib, yang memberi peluang kepada ilmuan, seniman, kaum humanis untuk mendobrak tradisi lama dan mengembalikan kejayaan eropa pada jaman Rumawidan Yunani kuno.
6.         Dampak dari renaissance dilihat dari wilayah moral, mendatangkan malapetaka, karena aturan-aturan moral lama tidak lagi dihargai. jika dilihat di luar wilayah moral, menunjukkan kelebihan yang luar biasa yakni perkembangan ilmu pengetahuan




DAFTAR PUSTAKA

Durant, Will, The Story of Philosophy, edisi  Persia,  Terjemahan, Safdar  Taqy Zadeh dan Abu Thalib Shahrimi, Jilid V, t.tp: t.th

Hamersna, Harry, Tokoh-tokohFilsafat Barat Modern, Vet IV; Jakarta:  Gramedia, 1990

Pujawijatna, Pembimbing ke arah Filsafat, Cet. V; Jakarta:PT Pembangunan, 1980

Russell Bertand, History of Western Phylosophy and its Connection with Political and  Social  Circumstances  from  the  Earliest  Times  to  the  Precent  Day, diterjemahkan oleh Sigit Jatmiko, Agung Prihartono, Imam  Muttaqim, Imam  Baihaqi, Muhammad Shodiq, dengan judul, Sejarah Filsafat Barat, dan kaitannya dengan kondisi sosiopolitik dari zaman kuno     hiNgga sekarang, Cet.III; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007


Suseno, Franzs Magnis, Islam dan Humanisme, Cet.I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, Cet.I; Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009

SumberElektronik: http://curusetra,wordpress.com/tag/spiritualism/humanism  http://curusetra.wordrpress.com/tag/spirituaLISME  
 http://id.wilkipedia.org/wiki/abad-renaissance http://vmanzberbagi.blogspot.com/2010/renaissance/html  http://www.al-shia-org/htm/id/service/maqalat/018/htm


[1] Ahmad Tafsir, FilsafatUmum, (Cet.I; Bandung : RemajaRosdaKarya, 2009), hlm 1
[2] Bertand Russell, Sejarah Filsafat Barat, dan kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari zaman kuno  higga sekarang, (Cet.III; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm 55
[3] Ibid, h. 2
[4] Bertand Russell, op.cit, h. 124-128
[5] Ibid, h. 506-5o7.  Lihatjuga Ahmad Tafsir, op.cit, h. 3
[6] http://www.al-shia-org/htm/id/service/maqalat/018/htm, dikutip pada tanggal 8 Mei 2015@Pukul 03.53PM
[7] http://curusetra.wordrpress.com/tag/spirituaLISME, dikutip pada tanggal 8 Mei 2015@Pukul 05.13PM

[8] FranzsMagniSuseno,  Islam danHumanisme,  (Cet.I;  Yogyakarta:  PustakaPelajar,  2007), h.209-210
[9] Ibid
[10] http://id.wilkipedia.org/wiki/abad-renaissance, dikutip pada tanggal 8 Mei 2015@Pukul 10.15PM

[11] Will Durant, The Story of Philosophy, edisi Persia, Terjemahan Safdar Taqy Zadehdan Abu Thalib Shahrimi, Jilid V, (t.tp:t.p,  t.th), h.88
[12] Russell, op.cit, h. 675-676
[13] Ibid
[14] http://curusetra,wordpress.com/tag/spiritualism/humanism, dikutip pada tanggal 6 Mei 2015@Pukul 03.15PM
[15] Will Durant,op.cit, h. 15
[16] Ibid, h.`23-24
[17] http://www-al-shia.org/htm/id/scrvice/maqalat/018/htm, dikutip pada tanggal 9 Mei 2015@Pukul 01.35PM
[18] Ibid.LihatjugaRussel, op.cit , h.660-661
[19] Harry Hamersna, Tokoh-tokohFilsafat Barat Modern, (Vet IV; Jakarta:  Gramedia, 1990), h 3
[20] Ibid
[21] Lihat Russell, op.cit, h.651-653
[22] Ibid, h. 654-655
[23] Ibid, h 657-658
[24] http://www-al-shia-org/htem/id/scrvice/maqalat/018/htm, dikutip pada tanggal 8 Mei 2015@Pukul 09.55PM
[25] Pujawijatna, Pembimbing ke arah Filsafat (Cet.V; Jakarta: PT Pembangunan, 1980), Hlm 91
[26] Russel, op.cit, h. 657-658
[27] http://vmanzberbagi.blogspot.com/2010/renaissance/html, dikutip pada tanggal 10 Mei 2015@Pukul 01.15AM
[28] Russell, op.cit, h. 662-663

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2012 CONTOH MAKALAH KARYA ILMIAH Semua Postingan di Tulis Oleh Admin MAKALAH ILMIAH UPDATE | Contoh Tugas